Ini bukan kisah sebuah novel romantis ataupun film ftv tentang percintaan, tapi ini sebuah kisah pribadiku. Dia datang dengan sejuta harapan, dia datang dengan penuh keberanian dan dia datang kepadaku dengan gagahnya tanpa perduli lingkungan sekitar. Dia mencoba menjadi temanku sampai akhirnya dia mengungkapkan rasa itu.
5 bulan yang kulalui dengan kegalauan kesedihan dan bayang-bayang seorang mantan dia musnahkan seketika saat kita mulai aktif berbicara satu sama lain.
Hobbynya hampir sama dengan ku itu juga membuat hubungan kami menjadi erat. Ada beberapa hal yang ia lalui pertama kali bersama ku semoga itu menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Ya senyum itu, aku ingat senyum itu yang membuat aku jatuh cinta dengan mudahnya. Lesung pipinya yang begitu dalam menjadi pemanis saat ia tersenyum.
Logat bataknya yang terkadang terdengar manis membuat aku tertawa dalam hati.
Aroma tubuhnya yang setiap kali dia habis memelukku membuat aku selalu merindukannya.
Ini bukan pertama kalinya aku jatuh cinta dengan seorang pria, tapi ini pertama kalinya aku dibuat terus jatuh cinta ketika ia tersenyum.
Tuhan jadikan perbedaan di antara kita menjadi penyatuan cinta yang begitu manis, permohonanku
Putri Windasari Mahasiswi Broadcasting
Saturday, 31 December 2016
Wednesday, 3 August 2016
Rindu
Siang ini tidak ada seorang pun teman yang mengajakku pergi, semua terasa hambar, pedih dan menyakitkan ketika kembali ke kamar. Kamar yang biasanya jadi tempat ternyaman mengapa kini menjadi tempat menumpahkan airmata terus menerus? Mengapa selalu terlintas hal-hal bahagia yang pernah kita lakukan? Tidakkah kamu rindu itu?
Sayang tidakkah kau ingat sedikit kenangan kita? Atau hanya secuil hal sederhana yang pernah kita lalui? Menunggu pokemon menghampiri kita disebuah taman kecil, haha bukankan itu hal yang membosankan apalagi terik matahari saat itu sangat panas, tapi bersamamu tidak sedikitpun aku merasa bosan aku sangat senang saat itu. Apa kamu bertanya kenapa, yap karena aku sudah menunggu pertemuan itu berhari-hari.
Sayang apa memang kita harus berpisah seperti ini, apa tuhanmu dan tuhanku tidak mengizinkan kita untuk bersama, apa tuhanmu dan tuhanku tidak merestui kita, atau memang ini yang terbaik untuk kita? Huh aku sangat marah dan ingin memarahi takdir ini, tapi sedikitpun aku tidak berdaya.
Sayang apa kamu ingat pertama kali kamu kecup aku? Kamu lihat aku bagaimana setelahnya, haha aku hanya mematung. Aish bukankan itu menegangkan, Bukan kan itu mencengkam? Sayang apakah kamu ingat juga ketika kamu memelukku dan aku berada didekapanmu. Aku mengatakan bahwa detak jantungmu membuat ku tenang, apa kamu ingat itu?. Ingat jugakah ketika kamu kecup keningku di depan kakak perempuan mu? Waah itu benar-benar membuat aku merasa bahwa kamu bahagia memilikiku.
Sayang apakah kamu disana memikirkan aku juga? Atau hanya aku yang memikirkanmu dan hanya aku yang terlalu mencintaimu? Coba ingat hal sederhana yang pernah kita lalui.
Sayang sebenarnya aku sudah merasakan bahwa cepat atau lambat kita memang pasti berpisah, tapi kepercayaan aku tentang perpisahan itu kamu hilangkan sedikit demi sedikit dengan harapan-harapan besar yang kamu lontarkan untukku. Kamu bilang aku harus menguatkan kenyakinanku karna didepan sana pasti banyak rintangan untuk kita, apakah kamu ingat itu? Tapi hanya lewat beberapa hari dari hari itu kita sudah sama-sama melemah, Memang tidak selalu dua hati harus menyatu.
Siang ini aku benar-benar merindukanmu. Bisakah kamu datangi aku untuk membiarkan aku mendapat pelukan untuk mendengar suara detak jantungmu yang mungkin dapat menenangkanku dan yang mungkin untuk terakhir kalinya?
Sayang tidakkah kau ingat sedikit kenangan kita? Atau hanya secuil hal sederhana yang pernah kita lalui? Menunggu pokemon menghampiri kita disebuah taman kecil, haha bukankan itu hal yang membosankan apalagi terik matahari saat itu sangat panas, tapi bersamamu tidak sedikitpun aku merasa bosan aku sangat senang saat itu. Apa kamu bertanya kenapa, yap karena aku sudah menunggu pertemuan itu berhari-hari.
Sayang apa memang kita harus berpisah seperti ini, apa tuhanmu dan tuhanku tidak mengizinkan kita untuk bersama, apa tuhanmu dan tuhanku tidak merestui kita, atau memang ini yang terbaik untuk kita? Huh aku sangat marah dan ingin memarahi takdir ini, tapi sedikitpun aku tidak berdaya.
Sayang apa kamu ingat pertama kali kamu kecup aku? Kamu lihat aku bagaimana setelahnya, haha aku hanya mematung. Aish bukankan itu menegangkan, Bukan kan itu mencengkam? Sayang apakah kamu ingat juga ketika kamu memelukku dan aku berada didekapanmu. Aku mengatakan bahwa detak jantungmu membuat ku tenang, apa kamu ingat itu?. Ingat jugakah ketika kamu kecup keningku di depan kakak perempuan mu? Waah itu benar-benar membuat aku merasa bahwa kamu bahagia memilikiku.
Sayang apakah kamu disana memikirkan aku juga? Atau hanya aku yang memikirkanmu dan hanya aku yang terlalu mencintaimu? Coba ingat hal sederhana yang pernah kita lalui.
Sayang sebenarnya aku sudah merasakan bahwa cepat atau lambat kita memang pasti berpisah, tapi kepercayaan aku tentang perpisahan itu kamu hilangkan sedikit demi sedikit dengan harapan-harapan besar yang kamu lontarkan untukku. Kamu bilang aku harus menguatkan kenyakinanku karna didepan sana pasti banyak rintangan untuk kita, apakah kamu ingat itu? Tapi hanya lewat beberapa hari dari hari itu kita sudah sama-sama melemah, Memang tidak selalu dua hati harus menyatu.
Siang ini aku benar-benar merindukanmu. Bisakah kamu datangi aku untuk membiarkan aku mendapat pelukan untuk mendengar suara detak jantungmu yang mungkin dapat menenangkanku dan yang mungkin untuk terakhir kalinya?
Sunday, 14 February 2016
SEBUAH NAMA
Aku duduk di
deretan bangku kantin kampusku dengan membolak balik lembar demi lembar novel
yang ku baca sejak tadi. Masih terdengar suara gaduh dalam kantin itu, gossip-
gossip yang terdengar jelas ditelinga ku. Iya mereka teman-teman ku yang sedari
tadi membicarakan salah satu pria di kampusku. Pria yang bisa dibilang memiliki aura yang
luar biasa. siapa yang tidak kenal dia? Seluruh warga kampus pasti mengenal
dia. Sebut saja namanya Danis dia diatasku 2 tahun.
Aku
menutup novel ku dan mulai beranjak dari tempat duduk. “ mau kemana ra? “ Tanya
dela kepadaku.
“
Gue mau keperpus dulu, mau balikin novel sekalian mau cari yang lain” jawabku.
Perpustakaan
tempat yang paling sering aku kunjungi, dan tempat yang menyimpan sejuta
kebahagian dalam hati kecil ku ini. Aku
berjalan seorang diri ditengah-tengah deretan buku-buku itu dengan membaca satu
persatu judul novel yang ku lihat, aku suka sekali novel yang bernuansa
romantic membacanya membuat aku seperti masuk kedalam cerita tersebut. Tiba- tiba
saja pandanganku teralihkan melihat
danis yang tadi dibicakan teman-teman ku sedang duduk sendirian membaca
sebuah buku dan mendegarkan music melalui earphonenya yang berwarna putih itu,
entah apa yang dia baca dan apa yang dia dengarkan dia sungguh terlihat
mempesona. Aku tidak bosan memandang dia walau dari kejauhan, inilah yang aku
sebut kebahagian dalam hati ku. Hanya ditempat inilah aku dapat memandang dia
tanpa ada gangguan dari siapapun. Danis menengok kearahku dan memberikan senyum
manisnya dia pun berjalan menghampiriku.
“gimana novel nya? Seru kan?” Tanya danis
kepadaku dengan tatapan tanjamnya itu yang membuat aku hanya melihat kematanya
“rara?” sahutnya lagi.
“eh—iya ka, kenapa?” jawab aku yang sedikit gugup. Selalu
saja aku gugup ketika berbicara dengan dia.
“gimana novelnya?
Seru kan ?” Tanya danis lagi kepadaku
“iya seru, aku
udah selesai bacanya. Ini mau cari yang lain”
“yes ! benerkan
itu salah satu novel favorite ku ra. aku yakin kamu ga akan nyesel baca novel
itu karena aku tau kamu suka yang romantic- romantic “ ejeknya
“bagus alurnya,
seandainya kisah aku sama seperti di novel ini hehe” kupasang senyum paling
manis yang aku miliki.
“semoga ya, biar
ga jomblo terus “ ejeknya lagi. Danis mengambil tangan kananku dan memberikan
novel yang tadi dia baca “ sekarang kamu baca yang ini, ini lebih seru loh”
memegang tanganku.
Aku diam danis
memegang tangan ku seorang danis memegang tanganku. Entah apa yang dia fikirkan
saat melihat ku yang hanya tersenyum dengan menunjukan gigi ini. “oh iya ka,
makasih ya” aku menajawabnya dan mungkin muka ku merah.
“yaudah aku masuk
kelas dulu ya ra” danis berjalan melawati deretan-deretan buku itu sedikit demi
sedikit dia mulai menghilang dari pandanganku.
Jam menunjukan
pukul 13.25 aku keluar kelas dengan memegang novel yang dipinjamkan oleh danis.
Terlihat diujung sana danis yang memakai kaos hitam tersenyum kepada ku.
Bahagia bukan main hari ini. Teman- temannya pun seperti sedang meledek danis
yang memberikan senyumnya.
Kilat petir
terlihat jelas dari lobby kampusku, langit mulai terlihat gelap. Sepertinya
hujan pun akan turun. Baru saja aku melangkahkan kaki keluar gedung kampus
benar saja gerimis pun turun. Segera aku membalikan badan dan ternyata ada
danis “ hujan, buru buru banget”
“sahutnya
“ehh—nggak ko” aku
pun tersenyum dan lagi-lagi mungkin muka ku merah
“pulang sendiri?”
Tanyanya
“iya ka” jawabku
“ohhh”
Aku sudah berharap
lebih dengan dia Tanya seperti itu, tapi sayang jawabnnya tidak seperti yang
aku inginkan.
“tuh nip anter
rara gih, deket ko kostannya”
“mmm gausah ka aku
jalan aja” jawabku
“lu aja deh ”
jawab hanif temannya danis itu
“yaudah, bentar ya
ambil motor dulu. Gausha alesan ya, kita searah kan”
Aku hanya diam
ingin berteriak pun rasanya tidak mungkin.
Saat perjalanan
pulang aku sangat senang mendengar lontara kata dari mulut danis, dia
mengajakku makan malam sekali lagi dia mengajakku makan malam. Dan sekarang aku
sangat bingung harus menggunakan baju yang mana. Hampir semua baju ku coba dan
sampai pada pilihan terakhir ku pada baju berwana pink dan rok berwarna merah
bata serta cardigan berwarna hitam. Aku hanya ingin membuat kesan terbaik saat
makan malam dengannya aku hanya ingin berpenampilan paling cantik ketika
bersama nya.
Danis menatap
tubuhku dari atas hingga bawah, dia tersenyum dan tertawa melihatku, tawa itu
ku sambut dengan heran. Fikirku pasti penampilan ini sangat kacau, gagal sudah
memberi kesan terbaik saat makan malam pertama dengan danis.
Danis melangkah
mendekatiku dan mengelus kepalaku “ra dari SMA sampe kuliah aku baru liat
ternyata kamu cantik juga ya” danis terus mengelus kepalaku dan menarik
tanganku untuk masuk ke mobilnya.
Lagi- lagi pasti
muka ku merah. Danis menjadikan aku sepeti wanita yang istimewa malam ini.
Selama 3 tahun aku mengenalnya dan selama 3 tahun pula aku mengaguminya baru
kali ini seperti perasaanku terbalaskan olehnya. Malam ini kami seperti
sepasang kekasih, danis tak melepaskan genggamannya dari tanganku mungkin
mereka yang melihat kami pun merasa iri atau mungkin risih. Karena danis benar-
benar memperlakukanku dengan istimewa malam ini. Danis memberikan ku sebuah
boneka teddy bear berkantong berwarna pink.
“Ra, kamu tuh udah
seperti adikku sendiri “
Apa ini? Danis
hanya mengaggapku adik, dengan dia memperlakukanku seistimewa ini dia hanya
menganggapku adik.
“aku sayang sama
kamu ra”
What???!!! Dia
bilang dia sayang? Ah ya sayang hanya sebagai adik. Mataku seperti sudah tidak
kuat untuk menahan air mata ini. Rasanya khayalan ku yang terlalu tinggi ini
sudah diremukan dengan kata “adik”.
“dan aku punya seseorang
yang tepat buat kamu pasti bisa jagain
kamu”
Apalagi ini,
apalagi yang dia katakan seseorang siapa maksudnya. Perasanku sangat campur
aduk. Aku kira dia menyukaiku dan dia ingin mengungkapkan perasaannya malam
ini, ternyata ah sudahlah.
“maaf ka, jangan
jodoh jodohin aku sama siapa pun” jawabku yang sedikit kesal
“tapi dia baik dia
temanku sendiri”
“lalu? Aku harus
mau gitu ka?”
“ya aku ga maksa
rara, Cuma aku kasih saran cobalah buat buka hati keorang”
“Buka hati? Aku
membuka hatiku buat kamu ka” rasanya aku ingin berteriak seperti itu
Aku diam aku
mematung tidak tau apa yang harus aku katakan waktu pun sepertinya berhenti
hanya untuk ku. Hati ini remuk mendengar kata adik dan mendengar semua
kata-katanya itu. Aku hanya tidak ingin terlihat bahwa dialah yang ada dihati
ini.
Aku mencoba
tertawa dan menghibur diri, aku mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi malam
ini. Danis melihatku heran, wajahnya tidak menunjukan kebahagiaan. Aneh.
“oy bree” sahut
hanif yang menghampiri kami
“sini sini duduk,
andien mana?” Tanya danis
“tuh disana,
kesana gih”
Apalagi ini?
Sebenarnya apa yang sudah direncanakan danis yatuhan.
“oke, ra sama
hanif dulu ya. Aku mau ke andien” beranjak pergi meninggalkan rara
“andien siapa ka?”
Tanya ku ke hanif
“oh dia temen
kelas. Dia suka sama danis, cantikkan ya?”
Tubuhku lemas,
tidak tau harus berkata apa. Lagi-lagi hatiku sakit, aku menunduk lemas.
Aku menghela nafas
dan sekali lagi aku hanya ingin terlihat baik- baik saja. Aku memang sedang
berbicara dengan hanif tapi tatapan ku tidak henti-hentinya menatap danis dan
kadang dia juga menatapku dengan memberikan senyum manisnya itu.
Hari pun berlalu
aku masih kecewa dengan kata “adik” dan
aku pun mulai tidak menanggapi hanif yang terus mendekatiku. Kenapa harus hanif
yang menyukaiku? Kenapa ya tuhan. Rasannya seperti tidak adil, tapi aku percaya
setiap kejadian yang kurasa tidak adil pasti ada seseuatu yang luar biasa
dibalik itu. Danis sendiri pun telah manjalin hubungan dengan andien seorang
yang dia temuinya malam itu. Danis berkata padaku bahwa dia tidak benar-benar
mencintai wanita itu, jahat memang tapi aku senang.
Sore ini danis
mengantarku pulang, dan dia menanyakan boneka pemberiannya itu. Yap tentu saja
masih ku simpan rapih.
Aku melihat- lihat
galeri foto ku, terselip fotoku dan danis waktu SMA, Ah dia begitu lucu. Aku
ambil boneka pemberian danis, aku pandangi terus boneka ini aku peluk-peluk.
Rasanya aku ingin danis ada dihadapan ku malam ini, rasanya ingin ku ungkapkan
semuanya, semua yang selama ini ku pendam. Tiba- tiba sebuah foto jatuh dari
kantong itu, tepampang fotoku dan danis yang baru saja ku lihat. Yatuhan danis benar-benar menganggapku
sebagai adiknya fikirku. Penasaran ku lihat lagi kantong boneka itu dan ku
temukan sebuah kertas yang bertuliskan “ SETIAP HATI SELALU MENYIMPAN SEBUAH
NAMA“ kutipan dari novel danis yang pernah dia pinjamkan kepadaku. Dibaliknya
pun tertulis “DAN RARA YANG ADA DIHATIKU SAAT INI, MAAFIN SIH PENGECUT INI RA”
betapa herannya aku malam ini melihat itu. Semua sudah terlambat danis pun
sudah bersama wanita itu, ya tuhan siapa yang salah?
Subscribe to:
Comments (Atom)