Putri Windasari Mahasiswi Broadcasting

Thursday, 11 June 2015

Aku Runtuh

Aku runtuh
Tak ada lagi yang memopangku
Tak ada lagi yang menjagaku
Tak ada lagi yang menyayangiku
Tak ada lagi yang mencintaiku

Aku runtuh
Sepagi ini aku masih terjaga
Dengan muka tanpa aura sama sekali
Seperti malam tanppa sinar bulan
Begitu gelap begitu lesuh begitu tak karuan

Oh tuhan aku akan merasakan kehilangan

Ku lihat tempat merah berbentuk hati
Berisi cincin yang begitu indah
Andai cincin ini untukku
Andai cincin ini dipasangkan untukku

Harapan hanyalah tinggal harapan
Tak ada sejarahnya
Sahabat menjadi suami istri
Berbahagialah kamu

Thursday, 2 April 2015

Kita Berjodoh

Kita Berjodoh
Hujan deras kali ini mengingatkan vega pada hujan dua tahun yang lalu ketika bel pulang sekolah telah berbunyi dan harus menunggu hujan reda untuk melangkahkan kaki pulang, saat itu umurnya masih tujuh belas  tahun sekitar kelas tiga SMA. Ia merindukan masa SMA nya termasuk seseorang yang membuatnya selalu bersemangat selama 3 tahun.
Matanya yang bulat dan bersinar terus menatap Vega saat hujan mulai reda, genggaman tangannya makin terasa mengenggam tangan Vega dan laki-laki itu mendekati telinga Vega dan membisikan sebuah kata yang membuat Vega sangat bahagia sore itu.  Di tariknya tangan Vega untuk berlari mendekati sepeda motor laki-laki itu dan mereka pulang bersama seperti hari-hari biasanya. Tiba- tiba seorang wanita memberhentikan mereka berdua dan membentak laki-laki itu “kapan kamu putusin dia katanya sayang sama aku lagi pula kita udah dijodohin kan, jangan terlalu lama sama dia nanti sakitnya makin menjadi-jadi”.
Vega terbangun dari lamunannya tak sengaja ia meneteskan air mata nya mengingat kejadian itu, Vega tak pernah memberi  kesempatan untuk laki-laki itu menjelaskan yang sebenarnya, sejak kejadian itu Vega tak pernah ingin bertemu dengan laki-laki itu tapi Vega masih menyimpan cintanya untuk laki-laki itu.
Tiba-tiba seorang laki-laki mendekatinya “Vega belum pulang kamu?” suara serak-serak basah  itu terdengar lagi ditelinganya. Dia adalah anak laki-laki pemilik butik itu usianya hanya beda dua tahun darinya namanya Zidan.
 Vega sangat hafal dengan suara itu “iya saya masih menunggu hujan reda mas” Vega pun membalikan badannya.
“ mau pulang bareng saya, kebetulan kita searah saya sering lihat kamu dijalan pulang” dengan tetapan matanya yang bulat itu mengingatkan Vega pada seorang laki-laki pada masa SMA nya itu
“hmm terimakasih mas tapi saya akan tunggu hujannya reda dulu dan saya juga harus ke toko buku dulu” menolak ajakannya dengan sangat sopan.
 “tapi hujan seperti ini biasanya lama, ayo saya antar kebetulan saya juga lagi tidak ada hal yang menyibukkan” ditariknya tangan Vega untuk mengikuti laki-laki itu memasuki mobilnya.
Vega tak menyangka bahwa dirinya kini berada di dalam sebuah mobil anak pemilik butik itu, biasanya mereka hanya mengobrol dikantor tapi kali ini mereka mengobrol didalam mobil yang seperti bersifat pribadi. Mobil itu berhenti persis di depan sebuah toko buku nusantara dimana biasanya vega membeli buku atau membaca buku-buku di toko itu.
“vega kamu sering ya ke toko buku ini?” Zidan memulai percakapan
“sangat sering mas, kalau pulang dari butik kakak terus dirumah lagi tidak ada tugas ya saya mampir kesini” ucapnya sangat lembut
“ohya, habis selesai ini kita makan dulu ya. Aku laper banget mau kan nemenin?” raut wajahnya itu terlihat sangat imut.
“hmm, boleh-boleh”
Zidan  menunggu vega didalam mobil hampir setengah jam dengan menyibukkan dirinya bermain game di handphonenya, dia sangat santai menunggu vega. Tak terlihat gerak gerik yang membuatnya bosan menunggu. Tiba-tiba vega datang menghampirinya.
“mas, maaf ya lama” vega meminta maaf dengan membuka pintu mobil
“iya gapapa,, yaudah kita makan dulu ya” ajaknya lembut
“hmmm mas maaf banget tiba-tiba aku inget kalau ada tugas dari kampus dan besok pagi harus udah ada didosen, kayaknya lain kali aja kita makan bareng ya?” tolak lembut ajakan Zidan
“ohh gitu ya, yaudah deh kita langsung pulang aja”
            Mobil jazz merah  itu berhenti didepan sebuah kostsaan tempat vega beristirahat setiap hari
“makasih ya mas” dengan membuka pintu mobil
“hey besok aku tunggu di café intan jam 2 siang ya” zidan membuka jendela mobil itu dan mengklakson
“aahhemmehiya iya” jawabnya gugup.
Siang itu terik matahari sangat terasa menyengat kulit-kulit gadis berusia 19tahun itu, iya menunggu busway yang akan membawanya ke café intan untuk bertemu Zidan. Sesampainya dicafe ia sudah lihat Zidan yang sedari tadi menunggunya.
“hey mas udah lama ya? Aku tadi baru keluar langsung kesini”
            “iya gapapa, cape ya? Nih minum dulu” Zidan menyodorkan gelas yang berisi strawberry smoothi
            “aaahh terimakasih” vega mengirup udara dengan tenang
            “vega..” panggil Zidan
            “iya kenapa ka?”
            Zidan meraih tangan vega yang sedari tadi ada diatas meja “aku sering perhatiin kamu, kamu sangat menarik bagiku, aku senang lihat senyum kamu ketawa kamu saat dengan ibu ku, dari dulu diam-diam aku itu suka sama kamu mungkin juga aku sayang sama kamu”
            vega bengong melihat perlkuan Zidan yang memegang tangannya”hah? Hmmm” vega membisu
            “kamu mau jadi pacarku?”Zidan menatap mata vega dengan tajam
            “tapi mas, aku belum ingin pacaran. Aku masih ingin sendiri”
            “hmmmm.. tapi bolehkah aku menjagamu selayaknya seorang kakak yang menjaga mu?”
            “tentu boleh, aku senang bila mas ingin menjaga ku”

Tiba-tiba dari pintu masuk ada seorang laki-laki yang melambaikan tangannya kepada Zidan, laki-laki itu menghampiri Zidan.
            “woy mas, iki pacarmu toh” laki-laki berwajah agak mirip dengan Zidan itu meledeknya.
            tiba-tiba vega berdiri kaget melihat sosok laki-laki itu.
            “ka ka kamuuu…” gugup Tanya vega
            “oh jadi kalian saling kenal, ayo-ayo duduk jangan kanget gitu” Zidan mempersilahkan vega duduk lagi.

Laki-laki itu adalah Aziz adik laki-laki Zidan sekaligus mantan vega saat SMA yang masih vega ridukan setiap malam.
            “mas apa ini pacarmu” senyum Aziz berubah jadi lesu karena melihat kakaknya sedang dengan wanita yang sangat ia kenalnya ini
            “ohh bukan-bukan ini karyawan mamah, mas ajak dia makan karena mas laper pengen ada yang temenin hahaha” tawa Zidan  “mas mau ke toilet dulu ya, tunggu disini Aziz kamu pesan makan aja dulu” Zidan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Keduanya membisu tak ada pertanyaan yang terlontarkan padahal hati mereka sedang bersahutan karena memendam rindu yang luar biasa yang selama 2 tahun tidak bertemu. Keduanya masih tetap diam dengan vega yang menunduduk dan Aziz yang sesekali curi-curi pandang kepada vega.
            “ehh kalian ini kenapa diem-dieman bukannya saling kenal?” Tanya Zidan yang mengagetkan mereka berdua.
            “enggak mas, aku kira teman aku waktu smp ternyata bukan” jawab vega
            tiba-tiba Zidan mendapat telepon dari mamahnya untuk segera kebutik
“gimana kalau kalian makan berdua aja dulu ya, mamah nelpon. Nanti kalian kebutik bareng ya. Dahhh bye..” Zidan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Keduanya masih sama-sama membisu, tapi tiba-tiba Aziz bersuara.
            “kamu masih marah sama aku?” Tanya Aziz ragu. Vega hanya diam dan sesekali melirik Aziz yang terus memandangnya.
            “kenapa kamu liatin aku terus?” ketus Tanya vega, padahal ia senang Aziz melihatnya terus-terusan.
            “kan aku Tanya kamu belum jawab, vega kenapa kamu gak pernah kasih kesempatan buat aku jelasin semuanya?” Aziz yang terus memandang vega
            “apa yang harus dijelasin lagi? Pasti kamu juga masih sama dia kan? Dan kamu pasti juga seneng liat aku masih sendiri sehabis putus dari kamu” vega berusaha menatap Aziz dengan mata yang berkunang-kunang.
            Aziz meraih tangan vega “vega, demi apa pun aku gak pernah sama dia atau siapapun, semenjak kita putus akupun masih sendiri aku masih nunggu kamu vega. Aku sangat merindukan kamu vega, dan aku senang kita bertemu disini”.
            “lepasin ! aku gamau dengerin apa-apa” vega beranjak pergi
            “tapi vega kamu harus percaya sama aku” Aziz mengejarnya terus sampai vega mendapatkan taxi.

Sebenarnya vega ingin dengar semua penjelasan Aziz, rasanya tak percaya bila Aziz masih sediri setelah berpisah dari vega. Vega duduk dikasur ternyamannya itu dengan perasaan mengebu dan harus menerima takdir indah yang mempertemukan mereka kembali, dalam hati betapa senang vega dapat melihat sosok yang masih ia sayangi itu. Jantung tak henti berdebar, fikirannya pun terpaku pada Aziz.
Esok harinya ia memasuki butik dan dia mendapatkan Aziz sedang duduk diruang para pelanggan dengan perasaannya mencengkap perasaannya yang sebenarnya ingin menegur ingin memeluk dan ingin memilikinya lagi ia kesampingkan dengan seolah-olah ia tak melihat Aziz yang sedari tadi menunggunya itu. Tetapi Aziz selalu memperhatikan setia orang yang masuk kebutik itu dan ia pun mendapatkan vega segera mungkin Aziz mengejar vega.
“vega tunggu!” teriak Aziz
            “apa lagi?” jawab vega santai, Aziz meraih tangan vega
            “aku harus bagaimana biar kamu percaya sama aku?”
            “iya udah aku percaya, lepasin nanti di liat ibu dan mas Zidan” vega melepaskan genggaman tangan Aziz darinya.
            “bener kamu percaya sama aku?” Aziz tak hanya memegang tangan vega ia pun langsung memeluk vega dengan erat, betapa rindunya yang telah selama ini terlampiaskan dengan pelukan itu. “kamu apa-apaan sih !” bentak vega dan melepas pelukan Aziz, padahal dalam hati vega sangat ingin membalas pelukan Aziz, betapa vega pun sangat merindukan masa-masanya bersama sosok yang ada didepannya seperti dahulu. “vega maaf, aku terlalu senang” Aziz tersenyum manis. Tiba-tiba bu solera pemilik butik itu menghampiri mereka.
            “kalian…” suara lembut itu terdengar dari tante Solera
            “maaa…” vega terbata-bata, segera Aziz memotong kata-kata vega
            “mah kenapa mamah gak bilang kalau vega kerja dibutik mamah?”
            “loh kalian saling kenal toh ndok?”
            “iyalah sangat mengenal satu sama lain” jawab Aziz
            “iya bu saya teman SMA Aziz di jogja” jawab vega dengan lembut
            “bukan Cuma sekedar teman mah” segera vega memotong “  iya kita sahabat waktu SMA tan, yaudah saya kembali kerja ya bu” Vega terlihat terburu-buru meninggalkan Aziz dan bu solera.

Jam makan siang telah tiba vega merapihkan kertas-kerta yang berserakan dimejanya itu dan melirikt kearah jendela ia melihat terik matahari yang  sangat menyengat. Vega melangkahkan kaki keluar butik untuk mencari makan siang. Tiba-tiba dari belakang ia merasakan ada sentuhan dijemari-jemarinya, vega membalikan badannya dan ia terlihat kaget ketika Aziz ada dibelakangnya tanpa sengaja vega hampir saja terjatuh tapi segera ditangkas oleh Zidan, ketiganya terdiam dan melamun, segera vega bangun dari lamunannya.
“vega hati-hati” sahut Zidan dengan lebut
            “Oh iya mas, maaf” jawab vega
            “kamu mau makan siang? Sama Aziz sana ya dia belum makan dari pagi”
            “oh iya, mas mau ikut bareng?” jawab vega
            “enggak, aku sudah makan tadi”
            “oh yaudah, saya keluar dulu mas”
            “iya hati-hati, jagain vega ziz”
            “pasti dong” jawab Aziz
Jatung vega tak henti berdebar tangannya tetap digenggam oleh Aziz seakan-akan Aziz tidak akan melepaskannya lagi, sesekali vega mencuri pandang ke Aziz. Vega pun membalas genggaman tangan Aziz dengan menggengmnya lebih erat.  Tatapan Aziz hanya tertuju pada  vega yang ada didepannya itu.
“vega?” sahut Aziz lembut
            “iya?”
            “kita mulai semuanya dari awal yu?” ajak Aziz dengan lembut dan penuh percaya diri. Vega tebengong seorang diri ia tak percaya apa yang baru saja dikatakan Aziz, hatinya sangat bahagia jantungnya tambah bedebar, tapi disisi lain vega sedang dilema. Ia khawatir dengan perasaan Zidan apalagi Aziz ini adalah adik kandung Zidan.
            “tapi… apa kamu gatau?” Tanya vega
            “tau apa?  Kamu belum punya pacarkan?”
            “memang belum, tapi ada yang menyayangi aku bahkan dia baru saja bilang tadi malam”
            “maksud kamu mas Zidan?” Tanya Aziz
            “iyaa” singkat jawab vega
            “dah yu balik kebutik” Aziz menarik tangan vega
Vega mengikuti setiap langkah Aziz sampai kebutik dan mengajak vega keruang penyimpanan baju penganti. Aziz melepaskan genggamannya dan ia menujukan sebuah lemari yang dilarang dibuka oleh bu solera.
“kamu udah pernah buka lemari ini?”Tanya Aziz santai
            “belum pernah, siapun yang kerja disini dilarang membuka lemari itu”    
            “kamu tau kenapa semua yang kerja disini dilarang buka lemari ini”
            “ya mana aku tahu” jawab singkat dan perasaan heran vega”
            “ini aku siapin buat kamu” Aziz membuka lemari itu, terlihat disana sebuah gaun berwarna putih panjang dengan bunga-bunga berwarna pink yang berbaris dilingkar pinggang gaun itu, gaun yang terlihat sangat indah itu adalah sebuah gaun pengantin yang telah disiapkan oleh Aziz untuk calon istrinya nanti.
            “ini aku siapin buat kamu vega” ulang pernyataan Aziz
            “maksud kamu? Aku gak ngerti”
            “kamu tuh dari dulu masih aja polos ya, aku mau kamu jadi istri aku vega” canda Aziz yang dipenuhi juga dengan keseriusan.
            “tapi…” tiba-tiba Zidan dan bu solera memasuki ruangan itu
            “vega mas tau kalian masih saling menyayangi sejak SMA, setiap malam Aziz selalu certain tentang kamu, mas aja baru tau tadi malem dari Aziz setelah kalian bertemu dan Aziz bahagianya minta ampun dirumah itu. Dan baju pengatin itu udah disiapin Aziz dari lama, Aziz nunggu kamu terus. kalau tau gini mas udah kasih tau dari mulai kamu kerja disini sayangnya Aziz gak pernah mampir kesini Cuma bilang kemamah minta buatin gaun pengantin paling indah buat calon istrinya nanti” penjelasan Zidan panjang lebar membuah vega hanya terdiam.
            “iya sayang, kalau tau tante udah bilang dari awal. Tante restuin kalian pokoknya” ujar tante solera
            “tapi mas Zidan..”
            “aku enggak apa-apa vega, kita juga baru kenal kan. Aku akan lebih bahagia kalau kamu sama Aziz kalian terlihat cocok, kalian memang ditakdirkan untuk bejodoh”

Vega berlari menghapiri Aziz yang berdiri disamping lemari itu dan langsung memeluk Aziz dengan sangat erat dan membisikkan suatu kata yang lembut.” Terimakasih masih menunggu dan mencintaiku selama ini, aku cinta kamu”.

Cerpen Kamu Miliknya

Kamu miliknya
Sore ini gor tempat biasa aku latihatan bulutangkis masih terlihat sepi hanya ada aku dan beberapa orang saja, ku mainkan ponsel ku seperti biasa update sana sini agar orang tahu aku sedang apa, hanya ini yang bisa lu lakukan mengeluarkan keluh kesah dalam hati. Tiba-tiba terlihat seseorang mengendairai sebuah motor Mio  dan memakai helm berwarna putih memasuki sebuah parkiran, matanya mancari celah-celah motor ditanah datar yang luasnya sekitar 50mx50m itu. Dibuka helm berwarna putihnya itu, ku temukan dia. Dia yang membuat ku semangat  untuk datang latihan, dia yang selalu membuat ku terkagum-kagum melihat permainan bulutangkisnya, dia yang membuat jantung ku berdebar cepat ketika tatapan kita saling bertemu, dan dia yang sudah memiliki seorang kekasih.
Kulihat dia jalan menghampiriku dan memberikan senyum kecilnya yang membuat jantungku berdebar sangat cepat, ku ikuti dia dari belakang namanya itupun ku sebut. “Ridho yang lain mana? Kok Cuma segini?”. Tanya ku penasaran karena hanya sedikit yang datang
“hmm, gatau ka masih pada dijalan kali” jawabnya sederharana. “Dinda kemana belum dateng?”
“belum masih ada rapat disekolah” kujawab dengan agak kesal mengingat dinda  sebagai ketua selalu telat untuk latihan. Ku berjalan menjauhinya menghampiri junior-junior ku yang sedang bercanda satu sama lain.
“yu, semuanya masuk kita mulai aja” suaraku dengan nada sedikit keras agar semua mendengarnya.

Malam ini ku perhatikan setiap notification yang muncul dipath, twitter, instagram, bbm, line, facebook, ask.fm. berharap ada notification dari Ridho tapi tidak ada, tiba-tiba terdapat panggilan masuk diponselku. Suatu nama yang sangat aku kenal Rizki pacarku.
            “assalamualaikum, aku udah dijalan mau kerumah kamu” suaranya yang tidak terlalu jelas.
            “oh yaudah hati-hati ya”jawabku, ku matikan telepon dan kurapihkan rambutku untuk menyambut kedatangan Rizki yang bertepatan dimalam minggu ini.
Sepulang Rizki kembali kuperhatikan beberapa media sosial aku, tiba-tiba ada pesan masuk dari dinda, dan memberitahukan latihan untuk lomba besok malam ditempat biasa. Semangat terlihat dari raut wajahku, dalam hati aku berharap dia pun datang untuk latihan walau rumahnya jauh dan sangat jauh. Dia memang semangat ku untuk selalu hadir setiap kali latihan walau aku sendiri tidak ingin mengikuti lomba tapi aku ikut hadir latihan, kadang aku berfikir aku ini wanita yang aneh.
Esok harinya, matahari mulai terbenam dan azan magrib pun segera berkumandang ku ambil wudhu dan ku ambil mukena, aku mulai solat dan berdoa. Seusai solat kurapihkan segala perlengkapan untuk latihan. Segera Rina datang menjemputku dengan sepeda motor kunyalakan gas dan kulajukan sepeda motor sampai ketempat tujuanku dan sudah ku lihat beberpa orang disana, mereka terlihat sangat bersemangat.
Aku ambil raket ku yang berada ditas berwarna merah itu ku perhatikan Ridho yang sedang asik bermain bulutangkis dengan gayanya yang terlihat professional itu, sungguh pemandangan indah yang kulihat malam ini. Tiba-tiba dinda menyuruh semuanya untuk berkumpul dan menginformasikan tentang persiapan lomba esok hari. Barang-barang sudah dirapihakan semuanya bersiap-siap untuk pulang kerumah masing-masing tidak lupa aku mengingatkan semuanya untuk tidak bergadang malam ini .
Malam ini ku perhatikan ponsel ku dan hanya satu kontak BBM yang sedang aku lihat, aku mencoba mengetik untuk berangakat bersama dengan Ridho, aku ragu aku takut Ridho menolak ajakan ku tapi kuberanikan diri untuk mengetiknya. Dan akhirnya dia mengiyakan ajakanku untuk berangkat bersama, dia memberiku nomer teleponnya agar aku bisa menghubunginya besok pagi kalau tiba-tiba BBM sedang slowrespon.
Pagi ini aku siapkan segalanya termasuk mentalku karena akan satu motor dengan Ridho, tidak lama Ridho pun tiba menjemputku. Diperjalanan menuju tempat lomba aku lebih banyak diam tetapi Ridho selalu mencoba membuat aku tertawa.
“kak put kenapa?”
“duh kalau nikung jangan terlalu miring ya aku takut jatoh” jawabku ketakutan
            “ohh kaputri takut miring-miring haha “ ejeknya menjekku yang sedang was-was ketika ada tikungan
“tenang ka aku gakkan miring-miring” jawabnya dengan cool. Ridho terus melajukan sepeda motornya itu, entahlah apakah dia merasakan yang sedang aku rasakan saat ini perasaan yang benar-benar tidak percaya kalau aku bisa satu motor dengan Ridho dan bercanda seperti ini.
Sekitar pukul 11:30 sampai disebuah gor bulutangkis yang terlihat cukup besar didaerah bekasi anak laki-laki mempersiapkan untuk solat jum’at terlebih dahulu sedangkan aku dan lainnya mencari makanan kesana sini.
Lomba pun dimulai aku menyemangati semua teman ku yang mengikuti lomba itu termasuk Ridho, aku lihat banyak keringat bercucuran diwajah Ridho rasanya ingin ku bersihkan keringat itu dengan tisu yang ku pengang, tetapi Rina lebih dahulu membersihkan keringat Ridho dengan sedikit candaan, walau hanya bercanda aku merasa hal ini menyakitkan. Ridho selalu menjauhi Rina ketika melihat wajahku seperti tidak suka melihat mereka berdua, aku tidak tau apakah Ridho mengetahui perasaanku atau tidak. Seusai lomba aku dan teman-teman merapihkan semua nya. Ketika perjalanan pulang mataku terkena debu membuat aku mengeluarkan air mata dan Ridho menyuruhku untuk memakai helm yang hanya aku pengang.
“ka pake helm nya tuhkan kelilipan”
“aduhh pusing kalau pake helm, ini mata perih banget” aku mencoba mengucek-ngucek mataku agar debu itu keluar tapi apa daya mataku semakin memerah.
“gimana ya ka, yaudah kakak pake helm matanya jangan dikucek-kucek terus pake juga ini jaket ya” keluar kata yang terlihat Ridho sangat khawatir kepadaku.
Beberapa bulan berlalu sejak kejadian itu aku dan Ridho saling mencuri-curu pandang dan kadang terpegok oleh mataku. Entah pacarnya tau atau tidak kalau Ridho pergi berasama aku saat itu. Sudah beberpa minggu yang lalu hubunngan aku dengan Rizki berakhir, aku mencoba mencari kesibukan dengan mengotak-ngatik beberapa akun media sosial milikku. tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 14:30 hari ini aku mencoba untuk hadir melihat sparing bulutangkis, sudah lama semenjak angkatan ku lengser aku tidak pernah melihat junior-junior ku berlatih.
Dua orang yang aku lihat disana sedang bertanding bersama sekolah lain, jelas aku lihat itu Ridho. Yang lainnya berteriak menyemangati Ridho dan Aziz yang sedang bertanding, sementara aku berteriak menyemangatin Ridho saja.
“semangat Ridho !” teriak ku karena aku tidak ingin yang lainya curiga aku semangati juga Aziz yang sedang bermain ganda dengan Ridho. “Ziz semangat okay semangat semangat” teriak ku. Aku melihat Ridho melirik kearah ku dengan memberikan senyum manisnya itu, tiba-tiba tubuh ku terasa berhenti tidak dapat bergerak aliran darah terasa seperti terhenti sejenak nafasku terasa sesak karena menahan kesenangan ini.
Malam ini adalah malam minggu seperti biasa setelah aku berpisah dengan Rizki hanya kakek yang menemaniku menonton tv. Aku ambil ponsel ku yang sedang aku charger didalam kamar aku mengganti display picture. Setelah selang 10 menit aku lihat layar ponsel ku terdapat notification dari BBM, aku dapatkan nama Ridho alvian dichats paling atas.
“kalau tempat sampah gak kebawa mah keren” tulisnya
            “hahaha, oya Ridho kenapa sama eskul kenapa pmnya kayak gitu” balas ku
“oh itu biasa ka kayak dulu, butuh bantuan kak dinda”
            “yaudah hubungin Dinda”
            “iya entar aja disekolah, kakak juga datang ya?”
“dateng kemana?” heran jawab ku
“eh gak jadi deh, kalau rapat ada ka Bela nanti aku grogi” Apa yang dia katakana membuat aku semakin heran. “kayak kemarin disemangatin sama ka Bela malah jadi grogi”
            “perasaan aku sering semangatin Cuma gak sadar aja kan?” ceplos jawabku
            “tapi kemarin secara langsung” balasnya
Aku tinggalkan ponsel dimeja rias, dan segera aku tertidur tanpa membalas lebih dulu pesan dari Ridho. Biasanya Ridho selalu curhat tetang pacarnya tapi kali ini berbeda. Ada rasa senang dalam hati tapi ada rasa mengganjal juga.
Esok harinya, seusai sekolah ku langkahkan kaki ku dengan semangat menyusuri setiap lorong-lorong sekolah untuk sampai keparkiran, aku lihat ada sosok yang selalu membuat perasaan ku tak karuan sedang berdiri dibawah pohon beringin bersama teman-temannya. Aku pasang senyum termanis ku dan dia membalasnya dengan senyuman dibibirnya yang seperti bulan sabit itu, senyuman yang membuat jantung ku kerap berdebar sangat cepat ketika melihatnya. Ada getar diponsel ku segara aku merogoh kantong rok ku, aku melihat ada pesan BBM dari Ridho.
“bidadari tidak punya sayap” segera jemari-jemari ku menyusuri setiap huruf yang ada dilayar ponsel ku
“semua bidadari punya sayap keles, gw bidadari bohongaan hahah”
            “kakak bidadari yang gapunya sayap karena ditakdirkan biar gak pergi jauh ninggalin aku, dan matanya yang terlalu indah itu tidak berani ku meniupnya” balasnya lewat pesan BBM
            “modus dasar bilangin Mira tau rasa deh” ejekku membalasnya
“ya daripada buat kakak bête”           
            “yaudah kalau gitu kirimin gw voice note Ridho nyanyi ya”balas ku
Beberapa lagu dia nyanyikan untuk menghiburku, suaranya yang merdu suara alat music ukulelenya yang terdengar rapih tak berantakan membuat aku selalu memutar ulang lagu-lagu yang dia nyanyikan itu, satu lagu yang paling aku suka dia menyanyikan lagu pemilik hati yang penyanyi aslinya band armada, ia hanya menyanyikan bagian reffnya saja. Entah apa yang aku rasakan lagu itu seperti benar-benar tertuju untukku.
“kakak makasih ya” pesan BBM dari Ridho masuk
“makasih untuk apa ya?” balasku heran
“makasih udah dikasih senyumnya hari ini bikin semangat ulangan”
            “wihh senyum gue bisa semangatin orang” balasku dengan melompat-lompat dikamar ternyamanku. Dia membuat aku sangat bahagia malam, aku selalu bertanya-tanya apakah dia tau tentang semua perasaan yang ku punya ini, apakah dia memahami dengan kode yang selalu aku berikan setiap aku update status di media sosial milikku? Semua itu penuh tandanya, rasanya ingin sekali aku mengungkapkan semua perasaan yang aku simpan secara diam-diam ini, aku tidak mengharapkan dia membalas perasaanku, aku hanya ingin dia mengetahui semuanya sebelum aku meniggalkan sekolah ini sebelum aku pergi untuk mengejar mimpiku.
Kali ini apa yang harus aku lakukan apakah aku harus secepat mungkin mengungkapkan apa yang selama ini terpendam? kapan waktu yang pas untuk aku mengungkapkannya? apa respon dia ketika aku memberitahukan semua perasaanku? apa dia hanya akan menertawaiku? apa dia akan bilang dia mencintaiku juga? apa dia langsung memeluk tubuh ku? apa dia acuhkan aku begitu  saja dan menjauh dariku? Semua itu selalu aku fikirkan. Aku memang tak terlalu berharap dia mencintaiku tapi aku ingin semua pengungkapan ku dia balasnya dengan positif.
Malam harinya, aku buka laptop aku putar video super junior yang membuat aku tenang aku perhatikan setia gerakan dancenya aku coba ikut bernyanyi dan menggerakkan tubuhku selayaknya ngedance bersama anggota super junior. Rasa bosan mengampiri aku tutup laptop ku dan aku raih ponsel ku yang dari sore aku charger, ada BBM masuk dari Ridho segera aku buka dan dia mengirimkan aku voice note untuk kesekian kalinya. Dia menyanyikan sebuah lagu yang setiap hari aku dengar andai saja penyanyi aslinya anima, aku lompat-lompat kegirangan aku merasa dia memahami kode yang selalu aku berikan lewat update statusku. Dia menyuruhku untuk hadir saat latihan bulutanggkis hari sabtu nanti dan aku iyakan ajakannya itu.
Esok harinya, aku sudah tiba di gor biasa tempat latihan bulutangkis, aku mencari-cari sosoknya belum kutemukan, ketika aku melihat kearah pintu masuk aku lihat dia baru datang dan segera menghampiri aku senyumnya yang manis itu menyapaku. Dan mengajak aku untuk berfoto bersama anak-anak eskul hari ini, Ridho beranjak meninggalkanku. Aku berjalan kearah luar dan ku nikmati angin sepoi-sepoi sore itu, aku membayangkan senyum Ridho saat itu betapa manisnya. Tiba-tiba seseorang duduk disampingku mengagetkanku dan langsung membuka percakapan.
“ka Ridho minta maaf ya kalau ada salah” mata sipitnya itu menatapku dengan tajam
            “salah? Enggak ada salah ko” balasku singkat
“yakan kalau ka”
“oh iyaaiyaa”
Bibirnya tersenyum dan matanya menatapku, tangannya seperti ingin memegang tanganku.
            “Ridho jangan liatin gw kayak gitu” ucapku kepadanya
“maaf ka, habis kakak cantik sih. Kalau disemangatin kakak aku malah grogi apalagi kalau kakak udah senyum haduhhh tapi gapapa deh semangatin terus aja heheh” jawabnya membuat aku salah tingkah saat itu
            “apasih Ridho udah ah jangan modus mulu”
“Ridho tuh kalau ngomong gak pernah modus ka”
“ah tau ah” jawab ku singkat
“ka ayo foto-foto disana sama anak-anak yang lain” ajaknya menarik tanganku
            “ahh iyaiya”
Jantungku saat ini tidak bisa diajak berkompromi rasanya dia ingin pergi dari tempatnya dan meninggalkan ku rasanya jatungku ini ingin lompat keluar karena terlalu bahagia. Aku dan dia selalu berfoto berdekatan, kadang aku lihat matanya yang mencuri-curi pandang melirikku itu membuat aku kembali salah tingkah.
Aku melihat dia sedang menerima telepon dan sekaligus mencari angin, telepon dia matikan dan aku menghampirinya aku mencoba ingin mengungkapkan semua perasaanku kepadanya.
“Ridho siapa yang nelepon?” tanyaku penasaran
“mamah yang Banten” jawabnya tak bersemangat
“kenapa pasti kangen ya?”
“besok aku disuruh keBanten ka, ada pertemuan”
“pertemuan apa?” tanyaku lagi penasaran
“pertemuan keluarga antara keluarga aku dan keluarga Mira”
Jengggggg….” Pertemuan keluarga ?”
“iya ka,” jawabnya lesu “oya ada apa tadi ka?”
Dia menatapku tajam, aku berdiam mematung, wajah aku hadapkan keatas langit-langit untuk menahan airmata yang sudah penuh dipelupuk mataku. Aku mengerti apa maksudnya pertemuan keluarga itu. Aku mengurungkan keinginanku untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya, aku pergi meninggalkannya dengan alasan sudah terlalu sore aku harus pulang.
Beberapa bulan setelah kejadian itu ku liat display picture Ridho ganti dengan foto Ridho berserta keluarganya dan Mira beserta keluarganya juga. Tiba-tiba BBM masuk dari Dedi.
“put waktu itu Ridho pernah jatuh cinta sama lo, tapi terhalang suatu hal”

Jenggggg…. Perasaan ku tak percaya melihat pesan itu, rasanya ingin langsung aku tanyakan pada Ridho tapi aku menahanya karena tak ingin mengganggunya dengan kekasihnya.