Siang ini tidak ada seorang pun teman yang mengajakku pergi, semua terasa hambar, pedih dan menyakitkan ketika kembali ke kamar. Kamar yang biasanya jadi tempat ternyaman mengapa kini menjadi tempat menumpahkan airmata terus menerus? Mengapa selalu terlintas hal-hal bahagia yang pernah kita lakukan? Tidakkah kamu rindu itu?
Sayang tidakkah kau ingat sedikit kenangan kita? Atau hanya secuil hal sederhana yang pernah kita lalui? Menunggu pokemon menghampiri kita disebuah taman kecil, haha bukankan itu hal yang membosankan apalagi terik matahari saat itu sangat panas, tapi bersamamu tidak sedikitpun aku merasa bosan aku sangat senang saat itu. Apa kamu bertanya kenapa, yap karena aku sudah menunggu pertemuan itu berhari-hari.
Sayang apa memang kita harus berpisah seperti ini, apa tuhanmu dan tuhanku tidak mengizinkan kita untuk bersama, apa tuhanmu dan tuhanku tidak merestui kita, atau memang ini yang terbaik untuk kita? Huh aku sangat marah dan ingin memarahi takdir ini, tapi sedikitpun aku tidak berdaya.
Sayang apa kamu ingat pertama kali kamu kecup aku? Kamu lihat aku bagaimana setelahnya, haha aku hanya mematung. Aish bukankan itu menegangkan, Bukan kan itu mencengkam? Sayang apakah kamu ingat juga ketika kamu memelukku dan aku berada didekapanmu. Aku mengatakan bahwa detak jantungmu membuat ku tenang, apa kamu ingat itu?. Ingat jugakah ketika kamu kecup keningku di depan kakak perempuan mu? Waah itu benar-benar membuat aku merasa bahwa kamu bahagia memilikiku.
Sayang apakah kamu disana memikirkan aku juga? Atau hanya aku yang memikirkanmu dan hanya aku yang terlalu mencintaimu? Coba ingat hal sederhana yang pernah kita lalui.
Sayang sebenarnya aku sudah merasakan bahwa cepat atau lambat kita memang pasti berpisah, tapi kepercayaan aku tentang perpisahan itu kamu hilangkan sedikit demi sedikit dengan harapan-harapan besar yang kamu lontarkan untukku. Kamu bilang aku harus menguatkan kenyakinanku karna didepan sana pasti banyak rintangan untuk kita, apakah kamu ingat itu? Tapi hanya lewat beberapa hari dari hari itu kita sudah sama-sama melemah, Memang tidak selalu dua hati harus menyatu.
Siang ini aku benar-benar merindukanmu. Bisakah kamu datangi aku untuk membiarkan aku mendapat pelukan untuk mendengar suara detak jantungmu yang mungkin dapat menenangkanku dan yang mungkin untuk terakhir kalinya?
No comments:
Post a Comment