Ini bukan kisah sebuah novel romantis ataupun film ftv tentang percintaan, tapi ini sebuah kisah pribadiku. Dia datang dengan sejuta harapan, dia datang dengan penuh keberanian dan dia datang kepadaku dengan gagahnya tanpa perduli lingkungan sekitar. Dia mencoba menjadi temanku sampai akhirnya dia mengungkapkan rasa itu.
5 bulan yang kulalui dengan kegalauan kesedihan dan bayang-bayang seorang mantan dia musnahkan seketika saat kita mulai aktif berbicara satu sama lain.
Hobbynya hampir sama dengan ku itu juga membuat hubungan kami menjadi erat. Ada beberapa hal yang ia lalui pertama kali bersama ku semoga itu menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Ya senyum itu, aku ingat senyum itu yang membuat aku jatuh cinta dengan mudahnya. Lesung pipinya yang begitu dalam menjadi pemanis saat ia tersenyum.
Logat bataknya yang terkadang terdengar manis membuat aku tertawa dalam hati.
Aroma tubuhnya yang setiap kali dia habis memelukku membuat aku selalu merindukannya.
Ini bukan pertama kalinya aku jatuh cinta dengan seorang pria, tapi ini pertama kalinya aku dibuat terus jatuh cinta ketika ia tersenyum.
Tuhan jadikan perbedaan di antara kita menjadi penyatuan cinta yang begitu manis, permohonanku
Putri Windasari ( pute )
Putri Windasari Mahasiswi Broadcasting
Saturday, 31 December 2016
Wednesday, 3 August 2016
Rindu
Siang ini tidak ada seorang pun teman yang mengajakku pergi, semua terasa hambar, pedih dan menyakitkan ketika kembali ke kamar. Kamar yang biasanya jadi tempat ternyaman mengapa kini menjadi tempat menumpahkan airmata terus menerus? Mengapa selalu terlintas hal-hal bahagia yang pernah kita lakukan? Tidakkah kamu rindu itu?
Sayang tidakkah kau ingat sedikit kenangan kita? Atau hanya secuil hal sederhana yang pernah kita lalui? Menunggu pokemon menghampiri kita disebuah taman kecil, haha bukankan itu hal yang membosankan apalagi terik matahari saat itu sangat panas, tapi bersamamu tidak sedikitpun aku merasa bosan aku sangat senang saat itu. Apa kamu bertanya kenapa, yap karena aku sudah menunggu pertemuan itu berhari-hari.
Sayang apa memang kita harus berpisah seperti ini, apa tuhanmu dan tuhanku tidak mengizinkan kita untuk bersama, apa tuhanmu dan tuhanku tidak merestui kita, atau memang ini yang terbaik untuk kita? Huh aku sangat marah dan ingin memarahi takdir ini, tapi sedikitpun aku tidak berdaya.
Sayang apa kamu ingat pertama kali kamu kecup aku? Kamu lihat aku bagaimana setelahnya, haha aku hanya mematung. Aish bukankan itu menegangkan, Bukan kan itu mencengkam? Sayang apakah kamu ingat juga ketika kamu memelukku dan aku berada didekapanmu. Aku mengatakan bahwa detak jantungmu membuat ku tenang, apa kamu ingat itu?. Ingat jugakah ketika kamu kecup keningku di depan kakak perempuan mu? Waah itu benar-benar membuat aku merasa bahwa kamu bahagia memilikiku.
Sayang apakah kamu disana memikirkan aku juga? Atau hanya aku yang memikirkanmu dan hanya aku yang terlalu mencintaimu? Coba ingat hal sederhana yang pernah kita lalui.
Sayang sebenarnya aku sudah merasakan bahwa cepat atau lambat kita memang pasti berpisah, tapi kepercayaan aku tentang perpisahan itu kamu hilangkan sedikit demi sedikit dengan harapan-harapan besar yang kamu lontarkan untukku. Kamu bilang aku harus menguatkan kenyakinanku karna didepan sana pasti banyak rintangan untuk kita, apakah kamu ingat itu? Tapi hanya lewat beberapa hari dari hari itu kita sudah sama-sama melemah, Memang tidak selalu dua hati harus menyatu.
Siang ini aku benar-benar merindukanmu. Bisakah kamu datangi aku untuk membiarkan aku mendapat pelukan untuk mendengar suara detak jantungmu yang mungkin dapat menenangkanku dan yang mungkin untuk terakhir kalinya?
Sayang tidakkah kau ingat sedikit kenangan kita? Atau hanya secuil hal sederhana yang pernah kita lalui? Menunggu pokemon menghampiri kita disebuah taman kecil, haha bukankan itu hal yang membosankan apalagi terik matahari saat itu sangat panas, tapi bersamamu tidak sedikitpun aku merasa bosan aku sangat senang saat itu. Apa kamu bertanya kenapa, yap karena aku sudah menunggu pertemuan itu berhari-hari.
Sayang apa memang kita harus berpisah seperti ini, apa tuhanmu dan tuhanku tidak mengizinkan kita untuk bersama, apa tuhanmu dan tuhanku tidak merestui kita, atau memang ini yang terbaik untuk kita? Huh aku sangat marah dan ingin memarahi takdir ini, tapi sedikitpun aku tidak berdaya.
Sayang apa kamu ingat pertama kali kamu kecup aku? Kamu lihat aku bagaimana setelahnya, haha aku hanya mematung. Aish bukankan itu menegangkan, Bukan kan itu mencengkam? Sayang apakah kamu ingat juga ketika kamu memelukku dan aku berada didekapanmu. Aku mengatakan bahwa detak jantungmu membuat ku tenang, apa kamu ingat itu?. Ingat jugakah ketika kamu kecup keningku di depan kakak perempuan mu? Waah itu benar-benar membuat aku merasa bahwa kamu bahagia memilikiku.
Sayang apakah kamu disana memikirkan aku juga? Atau hanya aku yang memikirkanmu dan hanya aku yang terlalu mencintaimu? Coba ingat hal sederhana yang pernah kita lalui.
Sayang sebenarnya aku sudah merasakan bahwa cepat atau lambat kita memang pasti berpisah, tapi kepercayaan aku tentang perpisahan itu kamu hilangkan sedikit demi sedikit dengan harapan-harapan besar yang kamu lontarkan untukku. Kamu bilang aku harus menguatkan kenyakinanku karna didepan sana pasti banyak rintangan untuk kita, apakah kamu ingat itu? Tapi hanya lewat beberapa hari dari hari itu kita sudah sama-sama melemah, Memang tidak selalu dua hati harus menyatu.
Siang ini aku benar-benar merindukanmu. Bisakah kamu datangi aku untuk membiarkan aku mendapat pelukan untuk mendengar suara detak jantungmu yang mungkin dapat menenangkanku dan yang mungkin untuk terakhir kalinya?
Sunday, 14 February 2016
SEBUAH NAMA
Aku duduk di
deretan bangku kantin kampusku dengan membolak balik lembar demi lembar novel
yang ku baca sejak tadi. Masih terdengar suara gaduh dalam kantin itu, gossip-
gossip yang terdengar jelas ditelinga ku. Iya mereka teman-teman ku yang sedari
tadi membicarakan salah satu pria di kampusku. Pria yang bisa dibilang memiliki aura yang
luar biasa. siapa yang tidak kenal dia? Seluruh warga kampus pasti mengenal
dia. Sebut saja namanya Danis dia diatasku 2 tahun.
Aku
menutup novel ku dan mulai beranjak dari tempat duduk. “ mau kemana ra? “ Tanya
dela kepadaku.
“
Gue mau keperpus dulu, mau balikin novel sekalian mau cari yang lain” jawabku.
Perpustakaan
tempat yang paling sering aku kunjungi, dan tempat yang menyimpan sejuta
kebahagian dalam hati kecil ku ini. Aku
berjalan seorang diri ditengah-tengah deretan buku-buku itu dengan membaca satu
persatu judul novel yang ku lihat, aku suka sekali novel yang bernuansa
romantic membacanya membuat aku seperti masuk kedalam cerita tersebut. Tiba- tiba
saja pandanganku teralihkan melihat
danis yang tadi dibicakan teman-teman ku sedang duduk sendirian membaca
sebuah buku dan mendegarkan music melalui earphonenya yang berwarna putih itu,
entah apa yang dia baca dan apa yang dia dengarkan dia sungguh terlihat
mempesona. Aku tidak bosan memandang dia walau dari kejauhan, inilah yang aku
sebut kebahagian dalam hati ku. Hanya ditempat inilah aku dapat memandang dia
tanpa ada gangguan dari siapapun. Danis menengok kearahku dan memberikan senyum
manisnya dia pun berjalan menghampiriku.
“gimana novel nya? Seru kan?” Tanya danis
kepadaku dengan tatapan tanjamnya itu yang membuat aku hanya melihat kematanya
“rara?” sahutnya lagi.
“eh—iya ka, kenapa?” jawab aku yang sedikit gugup. Selalu
saja aku gugup ketika berbicara dengan dia.
“gimana novelnya?
Seru kan ?” Tanya danis lagi kepadaku
“iya seru, aku
udah selesai bacanya. Ini mau cari yang lain”
“yes ! benerkan
itu salah satu novel favorite ku ra. aku yakin kamu ga akan nyesel baca novel
itu karena aku tau kamu suka yang romantic- romantic “ ejeknya
“bagus alurnya,
seandainya kisah aku sama seperti di novel ini hehe” kupasang senyum paling
manis yang aku miliki.
“semoga ya, biar
ga jomblo terus “ ejeknya lagi. Danis mengambil tangan kananku dan memberikan
novel yang tadi dia baca “ sekarang kamu baca yang ini, ini lebih seru loh”
memegang tanganku.
Aku diam danis
memegang tangan ku seorang danis memegang tanganku. Entah apa yang dia fikirkan
saat melihat ku yang hanya tersenyum dengan menunjukan gigi ini. “oh iya ka,
makasih ya” aku menajawabnya dan mungkin muka ku merah.
“yaudah aku masuk
kelas dulu ya ra” danis berjalan melawati deretan-deretan buku itu sedikit demi
sedikit dia mulai menghilang dari pandanganku.
Jam menunjukan
pukul 13.25 aku keluar kelas dengan memegang novel yang dipinjamkan oleh danis.
Terlihat diujung sana danis yang memakai kaos hitam tersenyum kepada ku.
Bahagia bukan main hari ini. Teman- temannya pun seperti sedang meledek danis
yang memberikan senyumnya.
Kilat petir
terlihat jelas dari lobby kampusku, langit mulai terlihat gelap. Sepertinya
hujan pun akan turun. Baru saja aku melangkahkan kaki keluar gedung kampus
benar saja gerimis pun turun. Segera aku membalikan badan dan ternyata ada
danis “ hujan, buru buru banget”
“sahutnya
“ehh—nggak ko” aku
pun tersenyum dan lagi-lagi mungkin muka ku merah
“pulang sendiri?”
Tanyanya
“iya ka” jawabku
“ohhh”
Aku sudah berharap
lebih dengan dia Tanya seperti itu, tapi sayang jawabnnya tidak seperti yang
aku inginkan.
“tuh nip anter
rara gih, deket ko kostannya”
“mmm gausah ka aku
jalan aja” jawabku
“lu aja deh ”
jawab hanif temannya danis itu
“yaudah, bentar ya
ambil motor dulu. Gausha alesan ya, kita searah kan”
Aku hanya diam
ingin berteriak pun rasanya tidak mungkin.
Saat perjalanan
pulang aku sangat senang mendengar lontara kata dari mulut danis, dia
mengajakku makan malam sekali lagi dia mengajakku makan malam. Dan sekarang aku
sangat bingung harus menggunakan baju yang mana. Hampir semua baju ku coba dan
sampai pada pilihan terakhir ku pada baju berwana pink dan rok berwarna merah
bata serta cardigan berwarna hitam. Aku hanya ingin membuat kesan terbaik saat
makan malam dengannya aku hanya ingin berpenampilan paling cantik ketika
bersama nya.
Danis menatap
tubuhku dari atas hingga bawah, dia tersenyum dan tertawa melihatku, tawa itu
ku sambut dengan heran. Fikirku pasti penampilan ini sangat kacau, gagal sudah
memberi kesan terbaik saat makan malam pertama dengan danis.
Danis melangkah
mendekatiku dan mengelus kepalaku “ra dari SMA sampe kuliah aku baru liat
ternyata kamu cantik juga ya” danis terus mengelus kepalaku dan menarik
tanganku untuk masuk ke mobilnya.
Lagi- lagi pasti
muka ku merah. Danis menjadikan aku sepeti wanita yang istimewa malam ini.
Selama 3 tahun aku mengenalnya dan selama 3 tahun pula aku mengaguminya baru
kali ini seperti perasaanku terbalaskan olehnya. Malam ini kami seperti
sepasang kekasih, danis tak melepaskan genggamannya dari tanganku mungkin
mereka yang melihat kami pun merasa iri atau mungkin risih. Karena danis benar-
benar memperlakukanku dengan istimewa malam ini. Danis memberikan ku sebuah
boneka teddy bear berkantong berwarna pink.
“Ra, kamu tuh udah
seperti adikku sendiri “
Apa ini? Danis
hanya mengaggapku adik, dengan dia memperlakukanku seistimewa ini dia hanya
menganggapku adik.
“aku sayang sama
kamu ra”
What???!!! Dia
bilang dia sayang? Ah ya sayang hanya sebagai adik. Mataku seperti sudah tidak
kuat untuk menahan air mata ini. Rasanya khayalan ku yang terlalu tinggi ini
sudah diremukan dengan kata “adik”.
“dan aku punya seseorang
yang tepat buat kamu pasti bisa jagain
kamu”
Apalagi ini,
apalagi yang dia katakan seseorang siapa maksudnya. Perasanku sangat campur
aduk. Aku kira dia menyukaiku dan dia ingin mengungkapkan perasaannya malam
ini, ternyata ah sudahlah.
“maaf ka, jangan
jodoh jodohin aku sama siapa pun” jawabku yang sedikit kesal
“tapi dia baik dia
temanku sendiri”
“lalu? Aku harus
mau gitu ka?”
“ya aku ga maksa
rara, Cuma aku kasih saran cobalah buat buka hati keorang”
“Buka hati? Aku
membuka hatiku buat kamu ka” rasanya aku ingin berteriak seperti itu
Aku diam aku
mematung tidak tau apa yang harus aku katakan waktu pun sepertinya berhenti
hanya untuk ku. Hati ini remuk mendengar kata adik dan mendengar semua
kata-katanya itu. Aku hanya tidak ingin terlihat bahwa dialah yang ada dihati
ini.
Aku mencoba
tertawa dan menghibur diri, aku mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi malam
ini. Danis melihatku heran, wajahnya tidak menunjukan kebahagiaan. Aneh.
“oy bree” sahut
hanif yang menghampiri kami
“sini sini duduk,
andien mana?” Tanya danis
“tuh disana,
kesana gih”
Apalagi ini?
Sebenarnya apa yang sudah direncanakan danis yatuhan.
“oke, ra sama
hanif dulu ya. Aku mau ke andien” beranjak pergi meninggalkan rara
“andien siapa ka?”
Tanya ku ke hanif
“oh dia temen
kelas. Dia suka sama danis, cantikkan ya?”
Tubuhku lemas,
tidak tau harus berkata apa. Lagi-lagi hatiku sakit, aku menunduk lemas.
Aku menghela nafas
dan sekali lagi aku hanya ingin terlihat baik- baik saja. Aku memang sedang
berbicara dengan hanif tapi tatapan ku tidak henti-hentinya menatap danis dan
kadang dia juga menatapku dengan memberikan senyum manisnya itu.
Hari pun berlalu
aku masih kecewa dengan kata “adik” dan
aku pun mulai tidak menanggapi hanif yang terus mendekatiku. Kenapa harus hanif
yang menyukaiku? Kenapa ya tuhan. Rasannya seperti tidak adil, tapi aku percaya
setiap kejadian yang kurasa tidak adil pasti ada seseuatu yang luar biasa
dibalik itu. Danis sendiri pun telah manjalin hubungan dengan andien seorang
yang dia temuinya malam itu. Danis berkata padaku bahwa dia tidak benar-benar
mencintai wanita itu, jahat memang tapi aku senang.
Sore ini danis
mengantarku pulang, dan dia menanyakan boneka pemberiannya itu. Yap tentu saja
masih ku simpan rapih.
Aku melihat- lihat
galeri foto ku, terselip fotoku dan danis waktu SMA, Ah dia begitu lucu. Aku
ambil boneka pemberian danis, aku pandangi terus boneka ini aku peluk-peluk.
Rasanya aku ingin danis ada dihadapan ku malam ini, rasanya ingin ku ungkapkan
semuanya, semua yang selama ini ku pendam. Tiba- tiba sebuah foto jatuh dari
kantong itu, tepampang fotoku dan danis yang baru saja ku lihat. Yatuhan danis benar-benar menganggapku
sebagai adiknya fikirku. Penasaran ku lihat lagi kantong boneka itu dan ku
temukan sebuah kertas yang bertuliskan “ SETIAP HATI SELALU MENYIMPAN SEBUAH
NAMA“ kutipan dari novel danis yang pernah dia pinjamkan kepadaku. Dibaliknya
pun tertulis “DAN RARA YANG ADA DIHATIKU SAAT INI, MAAFIN SIH PENGECUT INI RA”
betapa herannya aku malam ini melihat itu. Semua sudah terlambat danis pun
sudah bersama wanita itu, ya tuhan siapa yang salah?
Thursday, 11 June 2015
Aku Runtuh
Aku runtuh
Tak ada lagi yang memopangku
Tak ada lagi yang menjagaku
Tak ada lagi yang menyayangiku
Tak ada lagi yang mencintaiku
Aku runtuh
Sepagi ini aku masih terjaga
Dengan muka tanpa aura sama sekali
Seperti malam tanppa sinar bulan
Begitu gelap begitu lesuh begitu tak karuan
Oh tuhan aku akan merasakan kehilangan
Ku lihat tempat merah berbentuk hati
Berisi cincin yang begitu indah
Andai cincin ini untukku
Andai cincin ini dipasangkan untukku
Harapan hanyalah tinggal harapan
Tak ada sejarahnya
Sahabat menjadi suami istri
Berbahagialah kamu
Tak ada lagi yang memopangku
Tak ada lagi yang menjagaku
Tak ada lagi yang menyayangiku
Tak ada lagi yang mencintaiku
Aku runtuh
Sepagi ini aku masih terjaga
Dengan muka tanpa aura sama sekali
Seperti malam tanppa sinar bulan
Begitu gelap begitu lesuh begitu tak karuan
Oh tuhan aku akan merasakan kehilangan
Ku lihat tempat merah berbentuk hati
Berisi cincin yang begitu indah
Andai cincin ini untukku
Andai cincin ini dipasangkan untukku
Harapan hanyalah tinggal harapan
Tak ada sejarahnya
Sahabat menjadi suami istri
Berbahagialah kamu
Thursday, 2 April 2015
Kita Berjodoh
Kita Berjodoh
Hujan deras kali ini mengingatkan
vega pada hujan dua tahun yang lalu ketika bel pulang sekolah telah berbunyi
dan harus menunggu hujan reda untuk melangkahkan kaki pulang, saat itu umurnya
masih tujuh belas tahun sekitar kelas
tiga SMA. Ia merindukan masa SMA nya termasuk seseorang yang membuatnya selalu
bersemangat selama 3 tahun.
Matanya yang bulat dan
bersinar terus menatap Vega saat hujan mulai reda, genggaman tangannya makin
terasa mengenggam tangan Vega dan laki-laki itu mendekati telinga Vega dan
membisikan sebuah kata yang membuat Vega sangat bahagia sore itu. Di tariknya tangan Vega untuk berlari
mendekati sepeda motor laki-laki itu dan mereka pulang bersama seperti
hari-hari biasanya. Tiba- tiba seorang wanita memberhentikan mereka berdua dan
membentak laki-laki itu “kapan kamu putusin dia katanya sayang sama aku lagi
pula kita udah dijodohin kan, jangan terlalu lama sama dia nanti sakitnya makin
menjadi-jadi”.
Vega terbangun dari
lamunannya tak sengaja ia meneteskan air mata nya mengingat kejadian itu, Vega
tak pernah memberi kesempatan untuk
laki-laki itu menjelaskan yang sebenarnya, sejak kejadian itu Vega tak pernah
ingin bertemu dengan laki-laki itu tapi Vega masih menyimpan cintanya untuk
laki-laki itu.
Tiba-tiba seorang laki-laki mendekatinya “Vega belum
pulang kamu?” suara serak-serak basah
itu terdengar lagi ditelinganya. Dia adalah anak laki-laki pemilik butik
itu usianya hanya beda dua tahun darinya namanya Zidan.
Vega sangat hafal dengan suara itu “iya saya
masih menunggu hujan reda mas” Vega pun membalikan badannya.
“ mau pulang bareng
saya, kebetulan kita searah saya sering lihat kamu dijalan pulang” dengan
tetapan matanya yang bulat itu mengingatkan Vega pada seorang laki-laki pada
masa SMA nya itu
“hmm terimakasih mas
tapi saya akan tunggu hujannya reda dulu dan saya juga harus ke toko buku dulu”
menolak ajakannya dengan sangat sopan.
“tapi hujan seperti ini biasanya lama, ayo
saya antar kebetulan saya juga lagi tidak ada hal yang menyibukkan” ditariknya
tangan Vega untuk mengikuti laki-laki itu memasuki mobilnya.
Vega tak menyangka
bahwa dirinya kini berada di dalam sebuah mobil anak pemilik butik itu,
biasanya mereka hanya mengobrol dikantor tapi kali ini mereka mengobrol didalam
mobil yang seperti bersifat pribadi. Mobil itu berhenti persis di depan sebuah
toko buku nusantara dimana biasanya vega membeli buku atau membaca buku-buku di
toko itu.
“vega kamu
sering ya ke toko buku ini?” Zidan memulai percakapan
“sangat sering mas, kalau pulang dari butik kakak terus dirumah lagi tidak ada tugas ya saya mampir kesini” ucapnya sangat lembut
“ohya, habis selesai ini kita makan dulu ya. Aku laper banget mau kan nemenin?” raut wajahnya itu terlihat sangat imut.
“hmm, boleh-boleh”
“sangat sering mas, kalau pulang dari butik kakak terus dirumah lagi tidak ada tugas ya saya mampir kesini” ucapnya sangat lembut
“ohya, habis selesai ini kita makan dulu ya. Aku laper banget mau kan nemenin?” raut wajahnya itu terlihat sangat imut.
“hmm, boleh-boleh”
Zidan menunggu vega didalam mobil hampir setengah
jam dengan menyibukkan dirinya bermain game di handphonenya, dia sangat santai
menunggu vega. Tak terlihat gerak gerik yang membuatnya bosan menunggu.
Tiba-tiba vega datang menghampirinya.
“mas, maaf
ya lama” vega meminta maaf dengan membuka pintu mobil
“iya gapapa,, yaudah kita makan dulu ya” ajaknya lembut
“hmmm mas maaf banget tiba-tiba aku inget kalau ada tugas dari kampus dan besok pagi harus udah ada didosen, kayaknya lain kali aja kita makan bareng ya?” tolak lembut ajakan Zidan
“ohh gitu ya, yaudah deh kita langsung pulang aja”
“iya gapapa,, yaudah kita makan dulu ya” ajaknya lembut
“hmmm mas maaf banget tiba-tiba aku inget kalau ada tugas dari kampus dan besok pagi harus udah ada didosen, kayaknya lain kali aja kita makan bareng ya?” tolak lembut ajakan Zidan
“ohh gitu ya, yaudah deh kita langsung pulang aja”
Mobil jazz merah itu berhenti didepan sebuah kostsaan tempat
vega beristirahat setiap hari
“makasih ya
mas” dengan membuka pintu mobil
“hey besok aku tunggu di café intan jam 2 siang ya” zidan membuka jendela mobil itu dan mengklakson
“aahhemmehiya iya” jawabnya gugup.
“hey besok aku tunggu di café intan jam 2 siang ya” zidan membuka jendela mobil itu dan mengklakson
“aahhemmehiya iya” jawabnya gugup.
Siang itu terik matahari sangat terasa menyengat kulit-kulit
gadis berusia 19tahun itu, iya menunggu busway yang akan membawanya ke café
intan untuk bertemu Zidan. Sesampainya dicafe ia sudah lihat Zidan yang sedari
tadi menunggunya.
“hey mas udah lama ya? Aku tadi baru keluar langsung kesini”
“iya gapapa, cape ya? Nih minum dulu” Zidan menyodorkan gelas yang berisi strawberry smoothi
“aaahh terimakasih” vega mengirup udara dengan tenang
“vega..” panggil Zidan
“iya kenapa ka?”
Zidan meraih tangan vega yang sedari tadi ada diatas meja “aku sering perhatiin kamu, kamu sangat menarik bagiku, aku senang lihat senyum kamu ketawa kamu saat dengan ibu ku, dari dulu diam-diam aku itu suka sama kamu mungkin juga aku sayang sama kamu”
vega bengong melihat perlkuan Zidan yang memegang tangannya”hah? Hmmm” vega membisu
“kamu mau jadi pacarku?”Zidan menatap mata vega dengan tajam
“tapi mas, aku belum ingin pacaran. Aku masih ingin sendiri”
“hmmmm.. tapi bolehkah aku menjagamu selayaknya seorang kakak yang menjaga mu?”
“tentu boleh, aku senang bila mas ingin menjaga ku”
“iya gapapa, cape ya? Nih minum dulu” Zidan menyodorkan gelas yang berisi strawberry smoothi
“aaahh terimakasih” vega mengirup udara dengan tenang
“vega..” panggil Zidan
“iya kenapa ka?”
Zidan meraih tangan vega yang sedari tadi ada diatas meja “aku sering perhatiin kamu, kamu sangat menarik bagiku, aku senang lihat senyum kamu ketawa kamu saat dengan ibu ku, dari dulu diam-diam aku itu suka sama kamu mungkin juga aku sayang sama kamu”
vega bengong melihat perlkuan Zidan yang memegang tangannya”hah? Hmmm” vega membisu
“kamu mau jadi pacarku?”Zidan menatap mata vega dengan tajam
“tapi mas, aku belum ingin pacaran. Aku masih ingin sendiri”
“hmmmm.. tapi bolehkah aku menjagamu selayaknya seorang kakak yang menjaga mu?”
“tentu boleh, aku senang bila mas ingin menjaga ku”
Tiba-tiba dari pintu masuk ada seorang laki-laki yang
melambaikan tangannya kepada Zidan, laki-laki itu menghampiri Zidan.
“woy mas, iki pacarmu toh” laki-laki berwajah agak mirip dengan Zidan itu meledeknya.
tiba-tiba vega berdiri kaget melihat sosok laki-laki itu.
“ka ka kamuuu…” gugup Tanya vega
“oh jadi kalian saling kenal, ayo-ayo duduk jangan kanget gitu” Zidan mempersilahkan vega duduk lagi.
“woy mas, iki pacarmu toh” laki-laki berwajah agak mirip dengan Zidan itu meledeknya.
tiba-tiba vega berdiri kaget melihat sosok laki-laki itu.
“ka ka kamuuu…” gugup Tanya vega
“oh jadi kalian saling kenal, ayo-ayo duduk jangan kanget gitu” Zidan mempersilahkan vega duduk lagi.
Laki-laki itu adalah Aziz adik laki-laki Zidan sekaligus
mantan vega saat SMA yang masih vega ridukan setiap malam.
“mas apa ini pacarmu” senyum Aziz berubah jadi lesu karena melihat kakaknya sedang dengan wanita yang sangat ia kenalnya ini
“ohh bukan-bukan ini karyawan mamah, mas ajak dia makan karena mas laper pengen ada yang temenin hahaha” tawa Zidan “mas mau ke toilet dulu ya, tunggu disini Aziz kamu pesan makan aja dulu” Zidan berjalan meninggalkan mereka berdua.
“mas apa ini pacarmu” senyum Aziz berubah jadi lesu karena melihat kakaknya sedang dengan wanita yang sangat ia kenalnya ini
“ohh bukan-bukan ini karyawan mamah, mas ajak dia makan karena mas laper pengen ada yang temenin hahaha” tawa Zidan “mas mau ke toilet dulu ya, tunggu disini Aziz kamu pesan makan aja dulu” Zidan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Keduanya membisu tak ada pertanyaan yang terlontarkan padahal
hati mereka sedang bersahutan karena memendam rindu yang luar biasa yang selama
2 tahun tidak bertemu. Keduanya masih tetap diam dengan vega yang menunduduk
dan Aziz yang sesekali curi-curi pandang kepada vega.
“ehh kalian ini kenapa diem-dieman bukannya saling kenal?” Tanya Zidan yang mengagetkan mereka berdua.
“enggak mas, aku kira teman aku waktu smp ternyata bukan” jawab vega
tiba-tiba Zidan mendapat telepon dari mamahnya untuk segera kebutik
“ehh kalian ini kenapa diem-dieman bukannya saling kenal?” Tanya Zidan yang mengagetkan mereka berdua.
“enggak mas, aku kira teman aku waktu smp ternyata bukan” jawab vega
tiba-tiba Zidan mendapat telepon dari mamahnya untuk segera kebutik
“gimana kalau kalian makan berdua aja dulu ya, mamah nelpon.
Nanti kalian kebutik bareng ya. Dahhh bye..” Zidan melangkah pergi meninggalkan
mereka berdua.
Keduanya masih sama-sama membisu, tapi tiba-tiba Aziz
bersuara.
“kamu masih marah sama aku?” Tanya Aziz ragu. Vega hanya diam dan sesekali melirik Aziz yang terus memandangnya.
“kenapa kamu liatin aku terus?” ketus Tanya vega, padahal ia senang Aziz melihatnya terus-terusan.
“kan aku Tanya kamu belum jawab, vega kenapa kamu gak pernah kasih kesempatan buat aku jelasin semuanya?” Aziz yang terus memandang vega
“apa yang harus dijelasin lagi? Pasti kamu juga masih sama dia kan? Dan kamu pasti juga seneng liat aku masih sendiri sehabis putus dari kamu” vega berusaha menatap Aziz dengan mata yang berkunang-kunang.
Aziz meraih tangan vega “vega, demi apa pun aku gak pernah sama dia atau siapapun, semenjak kita putus akupun masih sendiri aku masih nunggu kamu vega. Aku sangat merindukan kamu vega, dan aku senang kita bertemu disini”.
“lepasin ! aku gamau dengerin apa-apa” vega beranjak pergi
“tapi vega kamu harus percaya sama aku” Aziz mengejarnya terus sampai vega mendapatkan taxi.
“kamu masih marah sama aku?” Tanya Aziz ragu. Vega hanya diam dan sesekali melirik Aziz yang terus memandangnya.
“kenapa kamu liatin aku terus?” ketus Tanya vega, padahal ia senang Aziz melihatnya terus-terusan.
“kan aku Tanya kamu belum jawab, vega kenapa kamu gak pernah kasih kesempatan buat aku jelasin semuanya?” Aziz yang terus memandang vega
“apa yang harus dijelasin lagi? Pasti kamu juga masih sama dia kan? Dan kamu pasti juga seneng liat aku masih sendiri sehabis putus dari kamu” vega berusaha menatap Aziz dengan mata yang berkunang-kunang.
Aziz meraih tangan vega “vega, demi apa pun aku gak pernah sama dia atau siapapun, semenjak kita putus akupun masih sendiri aku masih nunggu kamu vega. Aku sangat merindukan kamu vega, dan aku senang kita bertemu disini”.
“lepasin ! aku gamau dengerin apa-apa” vega beranjak pergi
“tapi vega kamu harus percaya sama aku” Aziz mengejarnya terus sampai vega mendapatkan taxi.
Sebenarnya vega ingin dengar semua penjelasan Aziz, rasanya
tak percaya bila Aziz masih sediri setelah berpisah dari vega. Vega duduk
dikasur ternyamannya itu dengan perasaan mengebu dan harus menerima takdir
indah yang mempertemukan mereka kembali, dalam hati betapa senang vega dapat
melihat sosok yang masih ia sayangi itu. Jantung tak henti berdebar, fikirannya
pun terpaku pada Aziz.
Esok harinya ia memasuki butik dan dia mendapatkan Aziz
sedang duduk diruang para pelanggan dengan perasaannya mencengkap perasaannya
yang sebenarnya ingin menegur ingin memeluk dan ingin memilikinya lagi ia
kesampingkan dengan seolah-olah ia tak melihat Aziz yang sedari tadi
menunggunya itu. Tetapi Aziz selalu memperhatikan setia orang yang masuk
kebutik itu dan ia pun mendapatkan vega segera mungkin Aziz mengejar vega.
“vega tunggu!” teriak Aziz
“apa lagi?” jawab vega santai, Aziz meraih tangan vega
“aku harus bagaimana biar kamu percaya sama aku?”
“iya udah aku percaya, lepasin nanti di liat ibu dan mas Zidan” vega melepaskan genggaman tangan Aziz darinya.
“bener kamu percaya sama aku?” Aziz tak hanya memegang tangan vega ia pun langsung memeluk vega dengan erat, betapa rindunya yang telah selama ini terlampiaskan dengan pelukan itu. “kamu apa-apaan sih !” bentak vega dan melepas pelukan Aziz, padahal dalam hati vega sangat ingin membalas pelukan Aziz, betapa vega pun sangat merindukan masa-masanya bersama sosok yang ada didepannya seperti dahulu. “vega maaf, aku terlalu senang” Aziz tersenyum manis. Tiba-tiba bu solera pemilik butik itu menghampiri mereka.
“kalian…” suara lembut itu terdengar dari tante Solera
“maaa…” vega terbata-bata, segera Aziz memotong kata-kata vega
“mah kenapa mamah gak bilang kalau vega kerja dibutik mamah?”
“loh kalian saling kenal toh ndok?”
“iyalah sangat mengenal satu sama lain” jawab Aziz
“iya bu saya teman SMA Aziz di jogja” jawab vega dengan lembut
“bukan Cuma sekedar teman mah” segera vega memotong “ iya kita sahabat waktu SMA tan, yaudah saya kembali kerja ya bu” Vega terlihat terburu-buru meninggalkan Aziz dan bu solera.
“apa lagi?” jawab vega santai, Aziz meraih tangan vega
“aku harus bagaimana biar kamu percaya sama aku?”
“iya udah aku percaya, lepasin nanti di liat ibu dan mas Zidan” vega melepaskan genggaman tangan Aziz darinya.
“bener kamu percaya sama aku?” Aziz tak hanya memegang tangan vega ia pun langsung memeluk vega dengan erat, betapa rindunya yang telah selama ini terlampiaskan dengan pelukan itu. “kamu apa-apaan sih !” bentak vega dan melepas pelukan Aziz, padahal dalam hati vega sangat ingin membalas pelukan Aziz, betapa vega pun sangat merindukan masa-masanya bersama sosok yang ada didepannya seperti dahulu. “vega maaf, aku terlalu senang” Aziz tersenyum manis. Tiba-tiba bu solera pemilik butik itu menghampiri mereka.
“kalian…” suara lembut itu terdengar dari tante Solera
“maaa…” vega terbata-bata, segera Aziz memotong kata-kata vega
“mah kenapa mamah gak bilang kalau vega kerja dibutik mamah?”
“loh kalian saling kenal toh ndok?”
“iyalah sangat mengenal satu sama lain” jawab Aziz
“iya bu saya teman SMA Aziz di jogja” jawab vega dengan lembut
“bukan Cuma sekedar teman mah” segera vega memotong “ iya kita sahabat waktu SMA tan, yaudah saya kembali kerja ya bu” Vega terlihat terburu-buru meninggalkan Aziz dan bu solera.
Jam makan siang telah tiba vega merapihkan kertas-kerta yang
berserakan dimejanya itu dan melirikt kearah jendela ia melihat terik matahari
yang sangat menyengat. Vega melangkahkan
kaki keluar butik untuk mencari makan siang. Tiba-tiba dari belakang ia
merasakan ada sentuhan dijemari-jemarinya, vega membalikan badannya dan ia
terlihat kaget ketika Aziz ada dibelakangnya tanpa sengaja vega hampir saja
terjatuh tapi segera ditangkas oleh Zidan, ketiganya terdiam dan melamun,
segera vega bangun dari lamunannya.
“vega hati-hati” sahut Zidan dengan lebut
“Oh iya mas, maaf” jawab vega
“kamu mau makan siang? Sama Aziz sana ya dia belum makan dari pagi”
“oh iya, mas mau ikut bareng?” jawab vega
“enggak, aku sudah makan tadi”
“oh yaudah, saya keluar dulu mas”
“iya hati-hati, jagain vega ziz”
“pasti dong” jawab Aziz
“Oh iya mas, maaf” jawab vega
“kamu mau makan siang? Sama Aziz sana ya dia belum makan dari pagi”
“oh iya, mas mau ikut bareng?” jawab vega
“enggak, aku sudah makan tadi”
“oh yaudah, saya keluar dulu mas”
“iya hati-hati, jagain vega ziz”
“pasti dong” jawab Aziz
Jatung vega tak henti berdebar tangannya tetap digenggam oleh
Aziz seakan-akan Aziz tidak akan melepaskannya lagi, sesekali vega mencuri
pandang ke Aziz. Vega pun membalas genggaman tangan Aziz dengan menggengmnya
lebih erat. Tatapan Aziz hanya tertuju
pada vega yang ada didepannya itu.
“vega?” sahut Aziz lembut
“iya?”
“kita mulai semuanya dari awal yu?” ajak Aziz dengan lembut dan penuh percaya diri. Vega tebengong seorang diri ia tak percaya apa yang baru saja dikatakan Aziz, hatinya sangat bahagia jantungnya tambah bedebar, tapi disisi lain vega sedang dilema. Ia khawatir dengan perasaan Zidan apalagi Aziz ini adalah adik kandung Zidan.
“tapi… apa kamu gatau?” Tanya vega
“tau apa? Kamu belum punya pacarkan?”
“memang belum, tapi ada yang menyayangi aku bahkan dia baru saja bilang tadi malam”
“maksud kamu mas Zidan?” Tanya Aziz
“iyaa” singkat jawab vega
“dah yu balik kebutik” Aziz menarik tangan vega
“iya?”
“kita mulai semuanya dari awal yu?” ajak Aziz dengan lembut dan penuh percaya diri. Vega tebengong seorang diri ia tak percaya apa yang baru saja dikatakan Aziz, hatinya sangat bahagia jantungnya tambah bedebar, tapi disisi lain vega sedang dilema. Ia khawatir dengan perasaan Zidan apalagi Aziz ini adalah adik kandung Zidan.
“tapi… apa kamu gatau?” Tanya vega
“tau apa? Kamu belum punya pacarkan?”
“memang belum, tapi ada yang menyayangi aku bahkan dia baru saja bilang tadi malam”
“maksud kamu mas Zidan?” Tanya Aziz
“iyaa” singkat jawab vega
“dah yu balik kebutik” Aziz menarik tangan vega
Vega mengikuti setiap langkah Aziz sampai kebutik dan
mengajak vega keruang penyimpanan baju penganti. Aziz melepaskan genggamannya
dan ia menujukan sebuah lemari yang dilarang dibuka oleh bu solera.
“kamu udah pernah buka lemari ini?”Tanya Aziz santai
“belum pernah, siapun yang kerja disini dilarang membuka lemari itu”
“kamu tau kenapa semua yang kerja disini dilarang buka lemari ini”
“ya mana aku tahu” jawab singkat dan perasaan heran vega”
“ini aku siapin buat kamu” Aziz membuka lemari itu, terlihat disana sebuah gaun berwarna putih panjang dengan bunga-bunga berwarna pink yang berbaris dilingkar pinggang gaun itu, gaun yang terlihat sangat indah itu adalah sebuah gaun pengantin yang telah disiapkan oleh Aziz untuk calon istrinya nanti.
“ini aku siapin buat kamu vega” ulang pernyataan Aziz
“maksud kamu? Aku gak ngerti”
“kamu tuh dari dulu masih aja polos ya, aku mau kamu jadi istri aku vega” canda Aziz yang dipenuhi juga dengan keseriusan.
“tapi…” tiba-tiba Zidan dan bu solera memasuki ruangan itu
“vega mas tau kalian masih saling menyayangi sejak SMA, setiap malam Aziz selalu certain tentang kamu, mas aja baru tau tadi malem dari Aziz setelah kalian bertemu dan Aziz bahagianya minta ampun dirumah itu. Dan baju pengatin itu udah disiapin Aziz dari lama, Aziz nunggu kamu terus. kalau tau gini mas udah kasih tau dari mulai kamu kerja disini sayangnya Aziz gak pernah mampir kesini Cuma bilang kemamah minta buatin gaun pengantin paling indah buat calon istrinya nanti” penjelasan Zidan panjang lebar membuah vega hanya terdiam.
“iya sayang, kalau tau tante udah bilang dari awal. Tante restuin kalian pokoknya” ujar tante solera
“tapi mas Zidan..”
“aku enggak apa-apa vega, kita juga baru kenal kan. Aku akan lebih bahagia kalau kamu sama Aziz kalian terlihat cocok, kalian memang ditakdirkan untuk bejodoh”
“belum pernah, siapun yang kerja disini dilarang membuka lemari itu”
“kamu tau kenapa semua yang kerja disini dilarang buka lemari ini”
“ya mana aku tahu” jawab singkat dan perasaan heran vega”
“ini aku siapin buat kamu” Aziz membuka lemari itu, terlihat disana sebuah gaun berwarna putih panjang dengan bunga-bunga berwarna pink yang berbaris dilingkar pinggang gaun itu, gaun yang terlihat sangat indah itu adalah sebuah gaun pengantin yang telah disiapkan oleh Aziz untuk calon istrinya nanti.
“ini aku siapin buat kamu vega” ulang pernyataan Aziz
“maksud kamu? Aku gak ngerti”
“kamu tuh dari dulu masih aja polos ya, aku mau kamu jadi istri aku vega” canda Aziz yang dipenuhi juga dengan keseriusan.
“tapi…” tiba-tiba Zidan dan bu solera memasuki ruangan itu
“vega mas tau kalian masih saling menyayangi sejak SMA, setiap malam Aziz selalu certain tentang kamu, mas aja baru tau tadi malem dari Aziz setelah kalian bertemu dan Aziz bahagianya minta ampun dirumah itu. Dan baju pengatin itu udah disiapin Aziz dari lama, Aziz nunggu kamu terus. kalau tau gini mas udah kasih tau dari mulai kamu kerja disini sayangnya Aziz gak pernah mampir kesini Cuma bilang kemamah minta buatin gaun pengantin paling indah buat calon istrinya nanti” penjelasan Zidan panjang lebar membuah vega hanya terdiam.
“iya sayang, kalau tau tante udah bilang dari awal. Tante restuin kalian pokoknya” ujar tante solera
“tapi mas Zidan..”
“aku enggak apa-apa vega, kita juga baru kenal kan. Aku akan lebih bahagia kalau kamu sama Aziz kalian terlihat cocok, kalian memang ditakdirkan untuk bejodoh”
Vega berlari menghapiri Aziz yang berdiri disamping lemari
itu dan langsung memeluk Aziz dengan sangat erat dan membisikkan suatu kata
yang lembut.” Terimakasih masih menunggu dan mencintaiku selama ini, aku cinta
kamu”.
Cerpen Kamu Miliknya
Kamu miliknya
Sore ini gor tempat biasa aku
latihatan bulutangkis masih terlihat sepi hanya ada aku dan beberapa orang
saja, ku mainkan ponsel ku seperti biasa update sana sini agar orang tahu aku
sedang apa, hanya ini yang bisa lu lakukan mengeluarkan keluh kesah dalam hati.
Tiba-tiba terlihat seseorang mengendairai sebuah motor Mio dan memakai helm berwarna putih memasuki
sebuah parkiran, matanya mancari celah-celah motor ditanah datar yang luasnya
sekitar 50mx50m itu. Dibuka helm berwarna putihnya itu, ku temukan dia. Dia
yang membuat ku semangat untuk datang
latihan, dia yang selalu membuat ku terkagum-kagum melihat permainan
bulutangkisnya, dia yang membuat jantung ku berdebar cepat ketika tatapan kita
saling bertemu, dan dia yang sudah memiliki seorang kekasih.
Kulihat dia jalan menghampiriku dan
memberikan senyum kecilnya yang membuat jantungku berdebar sangat cepat, ku
ikuti dia dari belakang namanya itupun ku sebut. “Ridho yang lain mana? Kok
Cuma segini?”. Tanya ku penasaran karena hanya sedikit yang datang
“hmm, gatau ka masih pada dijalan
kali” jawabnya sederharana. “Dinda kemana belum dateng?”
“belum masih ada rapat disekolah”
kujawab dengan agak kesal mengingat dinda sebagai ketua selalu telat untuk latihan. Ku
berjalan menjauhinya menghampiri junior-junior ku yang sedang bercanda satu
sama lain.
“yu, semuanya masuk kita mulai aja”
suaraku dengan nada sedikit keras agar semua mendengarnya.
Malam ini ku perhatikan setiap
notification yang muncul dipath, twitter, instagram, bbm, line, facebook,
ask.fm. berharap ada notification dari Ridho tapi tidak ada, tiba-tiba terdapat
panggilan masuk diponselku. Suatu nama yang sangat aku kenal Rizki pacarku.
“assalamualaikum, aku udah dijalan mau kerumah kamu” suaranya yang tidak terlalu jelas.
“oh yaudah hati-hati ya”jawabku, ku matikan telepon dan kurapihkan rambutku untuk menyambut kedatangan Rizki yang bertepatan dimalam minggu ini.
“assalamualaikum, aku udah dijalan mau kerumah kamu” suaranya yang tidak terlalu jelas.
“oh yaudah hati-hati ya”jawabku, ku matikan telepon dan kurapihkan rambutku untuk menyambut kedatangan Rizki yang bertepatan dimalam minggu ini.
Sepulang Rizki kembali kuperhatikan
beberapa media sosial aku, tiba-tiba ada pesan masuk dari dinda, dan
memberitahukan latihan untuk lomba besok malam ditempat biasa. Semangat
terlihat dari raut wajahku, dalam hati aku berharap dia pun datang untuk
latihan walau rumahnya jauh dan sangat jauh. Dia memang semangat ku untuk
selalu hadir setiap kali latihan walau aku sendiri tidak ingin mengikuti lomba
tapi aku ikut hadir latihan, kadang aku berfikir aku ini wanita yang aneh.
Esok harinya, matahari mulai
terbenam dan azan magrib pun segera berkumandang ku ambil wudhu dan ku ambil
mukena, aku mulai solat dan berdoa. Seusai solat kurapihkan segala perlengkapan
untuk latihan. Segera Rina datang menjemputku dengan sepeda motor kunyalakan
gas dan kulajukan sepeda motor sampai ketempat tujuanku dan sudah ku lihat
beberpa orang disana, mereka terlihat sangat bersemangat.
Aku ambil raket ku yang berada
ditas berwarna merah itu ku perhatikan Ridho yang sedang asik bermain
bulutangkis dengan gayanya yang terlihat professional itu, sungguh pemandangan
indah yang kulihat malam ini. Tiba-tiba dinda menyuruh semuanya untuk berkumpul
dan menginformasikan tentang persiapan lomba esok hari. Barang-barang sudah
dirapihakan semuanya bersiap-siap untuk pulang kerumah masing-masing tidak lupa
aku mengingatkan semuanya untuk tidak bergadang malam ini .
Malam ini ku perhatikan ponsel ku
dan hanya satu kontak BBM yang sedang aku lihat, aku mencoba mengetik untuk
berangakat bersama dengan Ridho, aku ragu aku takut Ridho menolak ajakan ku
tapi kuberanikan diri untuk mengetiknya. Dan akhirnya dia mengiyakan ajakanku
untuk berangkat bersama, dia memberiku nomer teleponnya agar aku bisa
menghubunginya besok pagi kalau tiba-tiba BBM sedang slowrespon.
Pagi ini aku siapkan segalanya
termasuk mentalku karena akan satu motor dengan Ridho, tidak lama Ridho pun
tiba menjemputku. Diperjalanan menuju tempat lomba aku lebih banyak diam tetapi
Ridho selalu mencoba membuat aku tertawa.
“kak put kenapa?”
“duh kalau nikung jangan terlalu
miring ya aku takut jatoh” jawabku ketakutan
“ohh kaputri takut miring-miring haha “ ejeknya menjekku yang sedang was-was ketika ada tikungan
“ohh kaputri takut miring-miring haha “ ejeknya menjekku yang sedang was-was ketika ada tikungan
“tenang ka aku gakkan
miring-miring” jawabnya dengan cool. Ridho terus melajukan sepeda motornya itu,
entahlah apakah dia merasakan yang sedang aku rasakan saat ini perasaan yang
benar-benar tidak percaya kalau aku bisa satu motor dengan Ridho dan bercanda
seperti ini.
Sekitar pukul 11:30 sampai disebuah
gor bulutangkis yang terlihat cukup besar didaerah bekasi anak laki-laki
mempersiapkan untuk solat jum’at terlebih dahulu sedangkan aku dan lainnya
mencari makanan kesana sini.
Lomba pun dimulai aku menyemangati
semua teman ku yang mengikuti lomba itu termasuk Ridho, aku lihat banyak keringat
bercucuran diwajah Ridho rasanya ingin ku bersihkan keringat itu dengan tisu
yang ku pengang, tetapi Rina lebih dahulu membersihkan keringat Ridho dengan
sedikit candaan, walau hanya bercanda aku merasa hal ini menyakitkan. Ridho
selalu menjauhi Rina ketika melihat wajahku seperti tidak suka melihat mereka
berdua, aku tidak tau apakah Ridho mengetahui perasaanku atau tidak. Seusai
lomba aku dan teman-teman merapihkan semua nya. Ketika perjalanan pulang mataku
terkena debu membuat aku mengeluarkan air mata dan Ridho menyuruhku untuk
memakai helm yang hanya aku pengang.
“ka pake helm nya tuhkan kelilipan”
“aduhh pusing kalau pake helm, ini
mata perih banget” aku mencoba mengucek-ngucek mataku agar debu itu keluar tapi
apa daya mataku semakin memerah.
“gimana ya ka, yaudah kakak pake
helm matanya jangan dikucek-kucek terus pake juga ini jaket ya” keluar kata
yang terlihat Ridho sangat khawatir kepadaku.
Beberapa bulan berlalu sejak
kejadian itu aku dan Ridho saling mencuri-curu pandang dan kadang terpegok oleh
mataku. Entah pacarnya tau atau tidak kalau Ridho pergi berasama aku saat itu.
Sudah beberpa minggu yang lalu hubunngan aku dengan Rizki berakhir, aku mencoba
mencari kesibukan dengan mengotak-ngatik beberapa akun media sosial milikku.
tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 14:30 hari ini aku mencoba untuk hadir
melihat sparing bulutangkis, sudah lama semenjak angkatan ku lengser aku tidak
pernah melihat junior-junior ku berlatih.
Dua orang yang aku lihat disana
sedang bertanding bersama sekolah lain, jelas aku lihat itu Ridho. Yang lainnya
berteriak menyemangati Ridho dan Aziz yang sedang bertanding, sementara aku
berteriak menyemangatin Ridho saja.
“semangat Ridho !” teriak ku karena
aku tidak ingin yang lainya curiga aku semangati juga Aziz yang sedang bermain
ganda dengan Ridho. “Ziz semangat okay semangat semangat” teriak ku. Aku
melihat Ridho melirik kearah ku dengan memberikan senyum manisnya itu,
tiba-tiba tubuh ku terasa berhenti tidak dapat bergerak aliran darah terasa
seperti terhenti sejenak nafasku terasa sesak karena menahan kesenangan ini.
Malam ini adalah malam minggu
seperti biasa setelah aku berpisah dengan Rizki hanya kakek yang menemaniku
menonton tv. Aku ambil ponsel ku yang sedang aku charger didalam kamar aku
mengganti display picture. Setelah selang 10 menit aku lihat layar ponsel ku
terdapat notification dari BBM, aku dapatkan nama Ridho alvian dichats paling
atas.
“kalau tempat sampah gak kebawa mah
keren” tulisnya
“hahaha,
oya Ridho kenapa sama eskul kenapa pmnya kayak gitu” balas ku
“oh itu biasa ka kayak dulu, butuh bantuan
kak dinda”
“yaudah
hubungin Dinda”
“iya
entar aja disekolah, kakak juga datang ya?”
“dateng kemana?” heran jawab ku
“eh gak jadi deh, kalau rapat ada
ka Bela nanti aku grogi” Apa yang dia katakana membuat aku semakin heran.
“kayak kemarin disemangatin sama ka Bela malah jadi grogi”
“perasaan aku sering semangatin Cuma gak sadar aja kan?” ceplos jawabku
“tapi kemarin secara langsung” balasnya
“perasaan aku sering semangatin Cuma gak sadar aja kan?” ceplos jawabku
“tapi kemarin secara langsung” balasnya
Aku tinggalkan ponsel dimeja rias,
dan segera aku tertidur tanpa membalas lebih dulu pesan dari Ridho. Biasanya Ridho
selalu curhat tetang pacarnya tapi kali ini berbeda. Ada rasa senang dalam hati
tapi ada rasa mengganjal juga.
Esok harinya, seusai sekolah ku
langkahkan kaki ku dengan semangat menyusuri setiap lorong-lorong sekolah untuk
sampai keparkiran, aku lihat ada sosok yang selalu membuat perasaan ku tak
karuan sedang berdiri dibawah pohon beringin bersama teman-temannya. Aku pasang
senyum termanis ku dan dia membalasnya dengan senyuman dibibirnya yang seperti
bulan sabit itu, senyuman yang membuat jantung ku kerap berdebar sangat cepat
ketika melihatnya. Ada getar diponsel ku segara aku merogoh kantong rok ku, aku
melihat ada pesan BBM dari Ridho.
“bidadari tidak punya sayap” segera
jemari-jemari ku menyusuri setiap huruf yang ada dilayar ponsel ku
“semua bidadari punya sayap keles,
gw bidadari bohongaan hahah”
“kakak bidadari yang gapunya sayap karena ditakdirkan biar gak pergi jauh ninggalin aku, dan matanya yang terlalu indah itu tidak berani ku meniupnya” balasnya lewat pesan BBM
“modus dasar bilangin Mira tau rasa deh” ejekku membalasnya
“kakak bidadari yang gapunya sayap karena ditakdirkan biar gak pergi jauh ninggalin aku, dan matanya yang terlalu indah itu tidak berani ku meniupnya” balasnya lewat pesan BBM
“modus dasar bilangin Mira tau rasa deh” ejekku membalasnya
“ya daripada buat kakak bête”
“yaudah kalau gitu kirimin gw voice note Ridho nyanyi ya”balas ku
“yaudah kalau gitu kirimin gw voice note Ridho nyanyi ya”balas ku
Beberapa lagu dia nyanyikan untuk
menghiburku, suaranya yang merdu suara alat music ukulelenya yang terdengar
rapih tak berantakan membuat aku selalu memutar ulang lagu-lagu yang dia
nyanyikan itu, satu lagu yang paling aku suka dia menyanyikan lagu pemilik hati
yang penyanyi aslinya band armada, ia hanya menyanyikan bagian reffnya saja.
Entah apa yang aku rasakan lagu itu seperti benar-benar tertuju untukku.
“kakak makasih ya” pesan BBM dari Ridho
masuk
“makasih untuk apa ya?” balasku
heran
“makasih udah dikasih senyumnya
hari ini bikin semangat ulangan”
“wihh senyum gue bisa semangatin orang” balasku dengan melompat-lompat dikamar ternyamanku. Dia membuat aku sangat bahagia malam, aku selalu bertanya-tanya apakah dia tau tentang semua perasaan yang ku punya ini, apakah dia memahami dengan kode yang selalu aku berikan setiap aku update status di media sosial milikku? Semua itu penuh tandanya, rasanya ingin sekali aku mengungkapkan semua perasaan yang aku simpan secara diam-diam ini, aku tidak mengharapkan dia membalas perasaanku, aku hanya ingin dia mengetahui semuanya sebelum aku meniggalkan sekolah ini sebelum aku pergi untuk mengejar mimpiku.
“wihh senyum gue bisa semangatin orang” balasku dengan melompat-lompat dikamar ternyamanku. Dia membuat aku sangat bahagia malam, aku selalu bertanya-tanya apakah dia tau tentang semua perasaan yang ku punya ini, apakah dia memahami dengan kode yang selalu aku berikan setiap aku update status di media sosial milikku? Semua itu penuh tandanya, rasanya ingin sekali aku mengungkapkan semua perasaan yang aku simpan secara diam-diam ini, aku tidak mengharapkan dia membalas perasaanku, aku hanya ingin dia mengetahui semuanya sebelum aku meniggalkan sekolah ini sebelum aku pergi untuk mengejar mimpiku.
Kali ini apa yang harus aku lakukan
apakah aku harus secepat mungkin mengungkapkan apa yang selama ini terpendam?
kapan waktu yang pas untuk aku mengungkapkannya? apa respon dia ketika aku
memberitahukan semua perasaanku? apa dia hanya akan menertawaiku? apa dia akan
bilang dia mencintaiku juga? apa dia langsung memeluk tubuh ku? apa dia acuhkan
aku begitu saja dan menjauh dariku?
Semua itu selalu aku fikirkan. Aku memang tak terlalu berharap dia mencintaiku
tapi aku ingin semua pengungkapan ku dia balasnya dengan positif.
Malam harinya, aku buka laptop aku
putar video super junior yang membuat aku tenang aku perhatikan setia gerakan
dancenya aku coba ikut bernyanyi dan menggerakkan tubuhku selayaknya ngedance
bersama anggota super junior. Rasa bosan mengampiri aku tutup laptop ku dan aku
raih ponsel ku yang dari sore aku charger, ada BBM masuk dari Ridho segera aku
buka dan dia mengirimkan aku voice note untuk kesekian kalinya. Dia menyanyikan
sebuah lagu yang setiap hari aku dengar andai saja penyanyi aslinya anima, aku
lompat-lompat kegirangan aku merasa dia memahami kode yang selalu aku berikan
lewat update statusku. Dia menyuruhku untuk hadir saat latihan bulutanggkis
hari sabtu nanti dan aku iyakan ajakannya itu.
Esok harinya, aku sudah tiba di gor
biasa tempat latihan bulutangkis, aku mencari-cari sosoknya belum kutemukan,
ketika aku melihat kearah pintu masuk aku lihat dia baru datang dan segera
menghampiri aku senyumnya yang manis itu menyapaku. Dan mengajak aku untuk
berfoto bersama anak-anak eskul hari ini, Ridho beranjak meninggalkanku. Aku
berjalan kearah luar dan ku nikmati angin sepoi-sepoi sore itu, aku
membayangkan senyum Ridho saat itu betapa manisnya. Tiba-tiba seseorang duduk
disampingku mengagetkanku dan langsung membuka percakapan.
“ka Ridho minta maaf ya kalau ada
salah” mata sipitnya itu menatapku dengan tajam
“salah? Enggak ada salah ko” balasku singkat
“salah? Enggak ada salah ko” balasku singkat
“yakan kalau ka”
“oh iyaaiyaa”
Bibirnya tersenyum dan matanya
menatapku, tangannya seperti ingin memegang tanganku.
“Ridho jangan liatin gw kayak gitu” ucapku kepadanya
“Ridho jangan liatin gw kayak gitu” ucapku kepadanya
“maaf ka, habis kakak cantik sih.
Kalau disemangatin kakak aku malah grogi apalagi kalau kakak udah senyum
haduhhh tapi gapapa deh semangatin terus aja heheh” jawabnya membuat aku salah
tingkah saat itu
“apasih Ridho udah ah jangan modus mulu”
“apasih Ridho udah ah jangan modus mulu”
“Ridho tuh kalau ngomong gak pernah
modus ka”
“ah tau ah” jawab ku singkat
“ka ayo foto-foto disana sama
anak-anak yang lain” ajaknya menarik tanganku
“ahh iyaiya”
“ahh iyaiya”
Jantungku saat ini tidak bisa
diajak berkompromi rasanya dia ingin pergi dari tempatnya dan meninggalkan ku
rasanya jatungku ini ingin lompat keluar karena terlalu bahagia. Aku dan dia
selalu berfoto berdekatan, kadang aku lihat matanya yang mencuri-curi pandang
melirikku itu membuat aku kembali salah tingkah.
Aku melihat dia sedang menerima
telepon dan sekaligus mencari angin, telepon dia matikan dan aku menghampirinya
aku mencoba ingin mengungkapkan semua perasaanku kepadanya.
“Ridho siapa yang nelepon?” tanyaku
penasaran
“mamah yang Banten” jawabnya tak
bersemangat
“kenapa pasti kangen ya?”
“besok aku disuruh keBanten ka, ada
pertemuan”
“pertemuan apa?” tanyaku lagi
penasaran
“pertemuan keluarga antara keluarga
aku dan keluarga Mira”
Jengggggg….” Pertemuan keluarga ?”
“iya ka,” jawabnya lesu “oya ada
apa tadi ka?”
Dia menatapku tajam, aku berdiam
mematung, wajah aku hadapkan keatas langit-langit untuk menahan airmata yang
sudah penuh dipelupuk mataku. Aku mengerti apa maksudnya pertemuan keluarga
itu. Aku mengurungkan keinginanku untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya, aku
pergi meninggalkannya dengan alasan sudah terlalu sore aku harus pulang.
Beberapa bulan setelah kejadian itu
ku liat display picture Ridho ganti dengan foto Ridho berserta keluarganya dan
Mira beserta keluarganya juga. Tiba-tiba BBM masuk dari Dedi.
“put waktu itu Ridho pernah jatuh
cinta sama lo, tapi terhalang suatu hal”
Jenggggg…. Perasaan ku tak percaya
melihat pesan itu, rasanya ingin langsung aku tanyakan pada Ridho tapi aku
menahanya karena tak ingin mengganggunya dengan kekasihnya.
Wednesday, 19 February 2014
terimakasih cinta
Terimakasih
cinta
Kamu yang masih selalu lewat depan kelasku
Pagi ini seperti biasa
aku mendengarkan musik yang dulu kamu nyanyikan di depanku, aku
selalu mengingat semua itu dari awal perkenalan sampai akhirnya kita bisa dekat.
Dulu kebiasaan yang aku
lakukan ya membuka akun twitter ku, tiba-tiba pesan masuk dari kamu. Kamu yang
dulu pernah aku suka. Ya dulu memang aku pernah menyukaimu namun rasa
ketertarikan ku terhadapmu aku hentikan karena aku mengetahui kamu sudah memiliki
kekasih. Kamu tahu rasanya ketika orang yang pernah kita suka lalu meminta
nomer telepon kita ? wih pastinya bahagia dan tidak menyangka.
Pertama perkenalan kita
mulai dari kamu meminta nomer telepon ku dari situ kita mulai mengirim pesan
singkat ya walau pesan pesan yang kita kirim sama sama menceritakan seseorang,
kamu menceritakan kekasihmu aku menceritan orang lain, itu aku lakukan untuk
menutupi kecemburuan ku.
Aku masih sangat
mengingat ketika kita sparing bulutangkis disitu aku berangkat bersama teman
sekelasku dan kamu berangkat bersama sahabatku, tapi entah mengapa aku merasa cemburu saat itu aku merasa tidak rela kalau kamu bersama dia, sampai di gor
kamu pun bercanda canda dengan nya itu sangat membuat ku sakit. Dan semenjak
kejadian itu aku akui sikap ku kepada mu berbeda itu karena aku sakit aku
cemburu melihat kalian sangat cocok aku pun kesal melihat kalian ! . dan kamu
selalu bertanya mengapa sikap ku berbeda beberapa hari ini, entah apa yang aku
lakukan aku menceritakan semuanya aku mengunggapkan yang ada dihati ku, begitu
pun dia ternyata diapun menyimpan perasaan terhadap ku sampai akhirnya diapun
meminta maaf padaku dan memilih untuk tidak dekat bersama sahabat ku.
Beberapa hari dari
kejadian itu sahabatku seperti membenciku dan dia pun menjauh dariku mungkin
itu karena kamu, tapi aku bingung sahabat ku itu sudah memiliki kekasih namun
ingin memilikimu juga, aku tidak rela sangat tidak rela jika kamu dijadikan
pelampiasannya.. masalah ini selesai dan kita semakin dekat, ingatkah ketika
kamu memainkan gitarmu dan menyanyikan sebuah lagu untukku ? sepenggal lirik “
kiniku menemukanmu diujung waktu ku patah hati” ya seperti itulah kira-kira
ingatkah itu? Kamu membuat aku terbang sangat tinggi
seperti ingin memeluk bulan.
Saat ini kita tidak
sedekat dulu jarang berkomunikasi, tapi menjauhnya kita kamu bilang itu semua
salah ku. Apa kamu yakin itu semua benar-benar hanya salah ku ? bukan salah mu
juga yang berpaling kepada sahabat ku ? ya kita sekarang memang berbeda tapi
kita masih sering kumpul disuatu tempat. Teman curhatku sekarang adalah teman
mu sendiri, dan semua kesedihan ku aku ceritakan pada teman mu. Sampai suatu
saat kita sedang berkumpul tidak sengaja aku melihat pesan masuk dari mu di
handphone teman ku yang berisikan curhatanmu yang sedang menyukai seseorang ya
itu tepatnya sahabatku sendiri. Hah ? sahabatku sendiri yang kamu suka? Itu
sangat membuat aku sakit ! disitu air mataku tak dapat aku bendung aku meminta
temanmu untuk menenangkan ku.
Jujur aku sedih
mengetahui semuanya dengan caraku sendiri dan aku sempat membeci mu begitu juga
kalian, hanya aku yang tidak diberi tahu oleh mu , tapi sudahlah aku tak ingin
mempermasalahkan ini. Suatu saat ketika aku ingin berangkat eskul ku ajak kamu
begitu juga orang yang kamu sayang begitu juga sahabat sahabatku. Disitu aku asik
latihan dan kalian asik berbincang-bincang, ketika aku keluar gor aku lihat
kalian yang sedang berbincang – bincang dengan wajah yang sangat bahagia tapi
yang menyakitkan ketika aku lihat kamu dan dia ditempat yang berbeda. Disana
aku seperti nyamuk yang bahkan tak terlihat oleh tatapan matamu, dia, dan kalian
ketika kalian menatapmu secepatnya aku berlari memasuki gor dan mengucurkan air
mata yang tak dapat ku bendung lagi . kamu tahu rasanya melihat kamu
mengungkapkan perasanmu padanya ditempat yang setiap sabtu sore ku datangi,
sakit broh. Tempat itu menyimpan kenangan ya kenangan menyakitkan. Semudah
itukah kamu menghilangkan perasaanmu terhadap ku ? dan semudah itukah kamu
berpaling padanya ? ya dia memang lebih segalanya dari aku :’)
Ketika kamu mulai jauh
dari ku ya jauh jauh jauh sekali langit seakan-akan gelap gulita seakan-akan
dunia turut tenggelam. Tapi aku selalu ingat perjalananku
tidak sesingkat ini. Bukankah setiap kesedihan akan datang kebahagiaan?
Subscribe to:
Comments (Atom)