Kita Berjodoh
Hujan deras kali ini mengingatkan
vega pada hujan dua tahun yang lalu ketika bel pulang sekolah telah berbunyi
dan harus menunggu hujan reda untuk melangkahkan kaki pulang, saat itu umurnya
masih tujuh belas tahun sekitar kelas
tiga SMA. Ia merindukan masa SMA nya termasuk seseorang yang membuatnya selalu
bersemangat selama 3 tahun.
Matanya yang bulat dan
bersinar terus menatap Vega saat hujan mulai reda, genggaman tangannya makin
terasa mengenggam tangan Vega dan laki-laki itu mendekati telinga Vega dan
membisikan sebuah kata yang membuat Vega sangat bahagia sore itu. Di tariknya tangan Vega untuk berlari
mendekati sepeda motor laki-laki itu dan mereka pulang bersama seperti
hari-hari biasanya. Tiba- tiba seorang wanita memberhentikan mereka berdua dan
membentak laki-laki itu “kapan kamu putusin dia katanya sayang sama aku lagi
pula kita udah dijodohin kan, jangan terlalu lama sama dia nanti sakitnya makin
menjadi-jadi”.
Vega terbangun dari
lamunannya tak sengaja ia meneteskan air mata nya mengingat kejadian itu, Vega
tak pernah memberi kesempatan untuk
laki-laki itu menjelaskan yang sebenarnya, sejak kejadian itu Vega tak pernah
ingin bertemu dengan laki-laki itu tapi Vega masih menyimpan cintanya untuk
laki-laki itu.
Tiba-tiba seorang laki-laki mendekatinya “Vega belum
pulang kamu?” suara serak-serak basah
itu terdengar lagi ditelinganya. Dia adalah anak laki-laki pemilik butik
itu usianya hanya beda dua tahun darinya namanya Zidan.
Vega sangat hafal dengan suara itu “iya saya
masih menunggu hujan reda mas” Vega pun membalikan badannya.
“ mau pulang bareng
saya, kebetulan kita searah saya sering lihat kamu dijalan pulang” dengan
tetapan matanya yang bulat itu mengingatkan Vega pada seorang laki-laki pada
masa SMA nya itu
“hmm terimakasih mas
tapi saya akan tunggu hujannya reda dulu dan saya juga harus ke toko buku dulu”
menolak ajakannya dengan sangat sopan.
“tapi hujan seperti ini biasanya lama, ayo
saya antar kebetulan saya juga lagi tidak ada hal yang menyibukkan” ditariknya
tangan Vega untuk mengikuti laki-laki itu memasuki mobilnya.
Vega tak menyangka
bahwa dirinya kini berada di dalam sebuah mobil anak pemilik butik itu,
biasanya mereka hanya mengobrol dikantor tapi kali ini mereka mengobrol didalam
mobil yang seperti bersifat pribadi. Mobil itu berhenti persis di depan sebuah
toko buku nusantara dimana biasanya vega membeli buku atau membaca buku-buku di
toko itu.
“vega kamu
sering ya ke toko buku ini?” Zidan memulai percakapan
“sangat sering mas, kalau pulang dari butik kakak terus dirumah lagi tidak ada tugas ya saya mampir kesini” ucapnya sangat lembut
“ohya, habis selesai ini kita makan dulu ya. Aku laper banget mau kan nemenin?” raut wajahnya itu terlihat sangat imut.
“hmm, boleh-boleh”
“sangat sering mas, kalau pulang dari butik kakak terus dirumah lagi tidak ada tugas ya saya mampir kesini” ucapnya sangat lembut
“ohya, habis selesai ini kita makan dulu ya. Aku laper banget mau kan nemenin?” raut wajahnya itu terlihat sangat imut.
“hmm, boleh-boleh”
Zidan menunggu vega didalam mobil hampir setengah
jam dengan menyibukkan dirinya bermain game di handphonenya, dia sangat santai
menunggu vega. Tak terlihat gerak gerik yang membuatnya bosan menunggu.
Tiba-tiba vega datang menghampirinya.
“mas, maaf
ya lama” vega meminta maaf dengan membuka pintu mobil
“iya gapapa,, yaudah kita makan dulu ya” ajaknya lembut
“hmmm mas maaf banget tiba-tiba aku inget kalau ada tugas dari kampus dan besok pagi harus udah ada didosen, kayaknya lain kali aja kita makan bareng ya?” tolak lembut ajakan Zidan
“ohh gitu ya, yaudah deh kita langsung pulang aja”
“iya gapapa,, yaudah kita makan dulu ya” ajaknya lembut
“hmmm mas maaf banget tiba-tiba aku inget kalau ada tugas dari kampus dan besok pagi harus udah ada didosen, kayaknya lain kali aja kita makan bareng ya?” tolak lembut ajakan Zidan
“ohh gitu ya, yaudah deh kita langsung pulang aja”
Mobil jazz merah itu berhenti didepan sebuah kostsaan tempat
vega beristirahat setiap hari
“makasih ya
mas” dengan membuka pintu mobil
“hey besok aku tunggu di café intan jam 2 siang ya” zidan membuka jendela mobil itu dan mengklakson
“aahhemmehiya iya” jawabnya gugup.
“hey besok aku tunggu di café intan jam 2 siang ya” zidan membuka jendela mobil itu dan mengklakson
“aahhemmehiya iya” jawabnya gugup.
Siang itu terik matahari sangat terasa menyengat kulit-kulit
gadis berusia 19tahun itu, iya menunggu busway yang akan membawanya ke café
intan untuk bertemu Zidan. Sesampainya dicafe ia sudah lihat Zidan yang sedari
tadi menunggunya.
“hey mas udah lama ya? Aku tadi baru keluar langsung kesini”
“iya gapapa, cape ya? Nih minum dulu” Zidan menyodorkan gelas yang berisi strawberry smoothi
“aaahh terimakasih” vega mengirup udara dengan tenang
“vega..” panggil Zidan
“iya kenapa ka?”
Zidan meraih tangan vega yang sedari tadi ada diatas meja “aku sering perhatiin kamu, kamu sangat menarik bagiku, aku senang lihat senyum kamu ketawa kamu saat dengan ibu ku, dari dulu diam-diam aku itu suka sama kamu mungkin juga aku sayang sama kamu”
vega bengong melihat perlkuan Zidan yang memegang tangannya”hah? Hmmm” vega membisu
“kamu mau jadi pacarku?”Zidan menatap mata vega dengan tajam
“tapi mas, aku belum ingin pacaran. Aku masih ingin sendiri”
“hmmmm.. tapi bolehkah aku menjagamu selayaknya seorang kakak yang menjaga mu?”
“tentu boleh, aku senang bila mas ingin menjaga ku”
“iya gapapa, cape ya? Nih minum dulu” Zidan menyodorkan gelas yang berisi strawberry smoothi
“aaahh terimakasih” vega mengirup udara dengan tenang
“vega..” panggil Zidan
“iya kenapa ka?”
Zidan meraih tangan vega yang sedari tadi ada diatas meja “aku sering perhatiin kamu, kamu sangat menarik bagiku, aku senang lihat senyum kamu ketawa kamu saat dengan ibu ku, dari dulu diam-diam aku itu suka sama kamu mungkin juga aku sayang sama kamu”
vega bengong melihat perlkuan Zidan yang memegang tangannya”hah? Hmmm” vega membisu
“kamu mau jadi pacarku?”Zidan menatap mata vega dengan tajam
“tapi mas, aku belum ingin pacaran. Aku masih ingin sendiri”
“hmmmm.. tapi bolehkah aku menjagamu selayaknya seorang kakak yang menjaga mu?”
“tentu boleh, aku senang bila mas ingin menjaga ku”
Tiba-tiba dari pintu masuk ada seorang laki-laki yang
melambaikan tangannya kepada Zidan, laki-laki itu menghampiri Zidan.
“woy mas, iki pacarmu toh” laki-laki berwajah agak mirip dengan Zidan itu meledeknya.
tiba-tiba vega berdiri kaget melihat sosok laki-laki itu.
“ka ka kamuuu…” gugup Tanya vega
“oh jadi kalian saling kenal, ayo-ayo duduk jangan kanget gitu” Zidan mempersilahkan vega duduk lagi.
“woy mas, iki pacarmu toh” laki-laki berwajah agak mirip dengan Zidan itu meledeknya.
tiba-tiba vega berdiri kaget melihat sosok laki-laki itu.
“ka ka kamuuu…” gugup Tanya vega
“oh jadi kalian saling kenal, ayo-ayo duduk jangan kanget gitu” Zidan mempersilahkan vega duduk lagi.
Laki-laki itu adalah Aziz adik laki-laki Zidan sekaligus
mantan vega saat SMA yang masih vega ridukan setiap malam.
“mas apa ini pacarmu” senyum Aziz berubah jadi lesu karena melihat kakaknya sedang dengan wanita yang sangat ia kenalnya ini
“ohh bukan-bukan ini karyawan mamah, mas ajak dia makan karena mas laper pengen ada yang temenin hahaha” tawa Zidan “mas mau ke toilet dulu ya, tunggu disini Aziz kamu pesan makan aja dulu” Zidan berjalan meninggalkan mereka berdua.
“mas apa ini pacarmu” senyum Aziz berubah jadi lesu karena melihat kakaknya sedang dengan wanita yang sangat ia kenalnya ini
“ohh bukan-bukan ini karyawan mamah, mas ajak dia makan karena mas laper pengen ada yang temenin hahaha” tawa Zidan “mas mau ke toilet dulu ya, tunggu disini Aziz kamu pesan makan aja dulu” Zidan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Keduanya membisu tak ada pertanyaan yang terlontarkan padahal
hati mereka sedang bersahutan karena memendam rindu yang luar biasa yang selama
2 tahun tidak bertemu. Keduanya masih tetap diam dengan vega yang menunduduk
dan Aziz yang sesekali curi-curi pandang kepada vega.
“ehh kalian ini kenapa diem-dieman bukannya saling kenal?” Tanya Zidan yang mengagetkan mereka berdua.
“enggak mas, aku kira teman aku waktu smp ternyata bukan” jawab vega
tiba-tiba Zidan mendapat telepon dari mamahnya untuk segera kebutik
“ehh kalian ini kenapa diem-dieman bukannya saling kenal?” Tanya Zidan yang mengagetkan mereka berdua.
“enggak mas, aku kira teman aku waktu smp ternyata bukan” jawab vega
tiba-tiba Zidan mendapat telepon dari mamahnya untuk segera kebutik
“gimana kalau kalian makan berdua aja dulu ya, mamah nelpon.
Nanti kalian kebutik bareng ya. Dahhh bye..” Zidan melangkah pergi meninggalkan
mereka berdua.
Keduanya masih sama-sama membisu, tapi tiba-tiba Aziz
bersuara.
“kamu masih marah sama aku?” Tanya Aziz ragu. Vega hanya diam dan sesekali melirik Aziz yang terus memandangnya.
“kenapa kamu liatin aku terus?” ketus Tanya vega, padahal ia senang Aziz melihatnya terus-terusan.
“kan aku Tanya kamu belum jawab, vega kenapa kamu gak pernah kasih kesempatan buat aku jelasin semuanya?” Aziz yang terus memandang vega
“apa yang harus dijelasin lagi? Pasti kamu juga masih sama dia kan? Dan kamu pasti juga seneng liat aku masih sendiri sehabis putus dari kamu” vega berusaha menatap Aziz dengan mata yang berkunang-kunang.
Aziz meraih tangan vega “vega, demi apa pun aku gak pernah sama dia atau siapapun, semenjak kita putus akupun masih sendiri aku masih nunggu kamu vega. Aku sangat merindukan kamu vega, dan aku senang kita bertemu disini”.
“lepasin ! aku gamau dengerin apa-apa” vega beranjak pergi
“tapi vega kamu harus percaya sama aku” Aziz mengejarnya terus sampai vega mendapatkan taxi.
“kamu masih marah sama aku?” Tanya Aziz ragu. Vega hanya diam dan sesekali melirik Aziz yang terus memandangnya.
“kenapa kamu liatin aku terus?” ketus Tanya vega, padahal ia senang Aziz melihatnya terus-terusan.
“kan aku Tanya kamu belum jawab, vega kenapa kamu gak pernah kasih kesempatan buat aku jelasin semuanya?” Aziz yang terus memandang vega
“apa yang harus dijelasin lagi? Pasti kamu juga masih sama dia kan? Dan kamu pasti juga seneng liat aku masih sendiri sehabis putus dari kamu” vega berusaha menatap Aziz dengan mata yang berkunang-kunang.
Aziz meraih tangan vega “vega, demi apa pun aku gak pernah sama dia atau siapapun, semenjak kita putus akupun masih sendiri aku masih nunggu kamu vega. Aku sangat merindukan kamu vega, dan aku senang kita bertemu disini”.
“lepasin ! aku gamau dengerin apa-apa” vega beranjak pergi
“tapi vega kamu harus percaya sama aku” Aziz mengejarnya terus sampai vega mendapatkan taxi.
Sebenarnya vega ingin dengar semua penjelasan Aziz, rasanya
tak percaya bila Aziz masih sediri setelah berpisah dari vega. Vega duduk
dikasur ternyamannya itu dengan perasaan mengebu dan harus menerima takdir
indah yang mempertemukan mereka kembali, dalam hati betapa senang vega dapat
melihat sosok yang masih ia sayangi itu. Jantung tak henti berdebar, fikirannya
pun terpaku pada Aziz.
Esok harinya ia memasuki butik dan dia mendapatkan Aziz
sedang duduk diruang para pelanggan dengan perasaannya mencengkap perasaannya
yang sebenarnya ingin menegur ingin memeluk dan ingin memilikinya lagi ia
kesampingkan dengan seolah-olah ia tak melihat Aziz yang sedari tadi
menunggunya itu. Tetapi Aziz selalu memperhatikan setia orang yang masuk
kebutik itu dan ia pun mendapatkan vega segera mungkin Aziz mengejar vega.
“vega tunggu!” teriak Aziz
“apa lagi?” jawab vega santai, Aziz meraih tangan vega
“aku harus bagaimana biar kamu percaya sama aku?”
“iya udah aku percaya, lepasin nanti di liat ibu dan mas Zidan” vega melepaskan genggaman tangan Aziz darinya.
“bener kamu percaya sama aku?” Aziz tak hanya memegang tangan vega ia pun langsung memeluk vega dengan erat, betapa rindunya yang telah selama ini terlampiaskan dengan pelukan itu. “kamu apa-apaan sih !” bentak vega dan melepas pelukan Aziz, padahal dalam hati vega sangat ingin membalas pelukan Aziz, betapa vega pun sangat merindukan masa-masanya bersama sosok yang ada didepannya seperti dahulu. “vega maaf, aku terlalu senang” Aziz tersenyum manis. Tiba-tiba bu solera pemilik butik itu menghampiri mereka.
“kalian…” suara lembut itu terdengar dari tante Solera
“maaa…” vega terbata-bata, segera Aziz memotong kata-kata vega
“mah kenapa mamah gak bilang kalau vega kerja dibutik mamah?”
“loh kalian saling kenal toh ndok?”
“iyalah sangat mengenal satu sama lain” jawab Aziz
“iya bu saya teman SMA Aziz di jogja” jawab vega dengan lembut
“bukan Cuma sekedar teman mah” segera vega memotong “ iya kita sahabat waktu SMA tan, yaudah saya kembali kerja ya bu” Vega terlihat terburu-buru meninggalkan Aziz dan bu solera.
“apa lagi?” jawab vega santai, Aziz meraih tangan vega
“aku harus bagaimana biar kamu percaya sama aku?”
“iya udah aku percaya, lepasin nanti di liat ibu dan mas Zidan” vega melepaskan genggaman tangan Aziz darinya.
“bener kamu percaya sama aku?” Aziz tak hanya memegang tangan vega ia pun langsung memeluk vega dengan erat, betapa rindunya yang telah selama ini terlampiaskan dengan pelukan itu. “kamu apa-apaan sih !” bentak vega dan melepas pelukan Aziz, padahal dalam hati vega sangat ingin membalas pelukan Aziz, betapa vega pun sangat merindukan masa-masanya bersama sosok yang ada didepannya seperti dahulu. “vega maaf, aku terlalu senang” Aziz tersenyum manis. Tiba-tiba bu solera pemilik butik itu menghampiri mereka.
“kalian…” suara lembut itu terdengar dari tante Solera
“maaa…” vega terbata-bata, segera Aziz memotong kata-kata vega
“mah kenapa mamah gak bilang kalau vega kerja dibutik mamah?”
“loh kalian saling kenal toh ndok?”
“iyalah sangat mengenal satu sama lain” jawab Aziz
“iya bu saya teman SMA Aziz di jogja” jawab vega dengan lembut
“bukan Cuma sekedar teman mah” segera vega memotong “ iya kita sahabat waktu SMA tan, yaudah saya kembali kerja ya bu” Vega terlihat terburu-buru meninggalkan Aziz dan bu solera.
Jam makan siang telah tiba vega merapihkan kertas-kerta yang
berserakan dimejanya itu dan melirikt kearah jendela ia melihat terik matahari
yang sangat menyengat. Vega melangkahkan
kaki keluar butik untuk mencari makan siang. Tiba-tiba dari belakang ia
merasakan ada sentuhan dijemari-jemarinya, vega membalikan badannya dan ia
terlihat kaget ketika Aziz ada dibelakangnya tanpa sengaja vega hampir saja
terjatuh tapi segera ditangkas oleh Zidan, ketiganya terdiam dan melamun,
segera vega bangun dari lamunannya.
“vega hati-hati” sahut Zidan dengan lebut
“Oh iya mas, maaf” jawab vega
“kamu mau makan siang? Sama Aziz sana ya dia belum makan dari pagi”
“oh iya, mas mau ikut bareng?” jawab vega
“enggak, aku sudah makan tadi”
“oh yaudah, saya keluar dulu mas”
“iya hati-hati, jagain vega ziz”
“pasti dong” jawab Aziz
“Oh iya mas, maaf” jawab vega
“kamu mau makan siang? Sama Aziz sana ya dia belum makan dari pagi”
“oh iya, mas mau ikut bareng?” jawab vega
“enggak, aku sudah makan tadi”
“oh yaudah, saya keluar dulu mas”
“iya hati-hati, jagain vega ziz”
“pasti dong” jawab Aziz
Jatung vega tak henti berdebar tangannya tetap digenggam oleh
Aziz seakan-akan Aziz tidak akan melepaskannya lagi, sesekali vega mencuri
pandang ke Aziz. Vega pun membalas genggaman tangan Aziz dengan menggengmnya
lebih erat. Tatapan Aziz hanya tertuju
pada vega yang ada didepannya itu.
“vega?” sahut Aziz lembut
“iya?”
“kita mulai semuanya dari awal yu?” ajak Aziz dengan lembut dan penuh percaya diri. Vega tebengong seorang diri ia tak percaya apa yang baru saja dikatakan Aziz, hatinya sangat bahagia jantungnya tambah bedebar, tapi disisi lain vega sedang dilema. Ia khawatir dengan perasaan Zidan apalagi Aziz ini adalah adik kandung Zidan.
“tapi… apa kamu gatau?” Tanya vega
“tau apa? Kamu belum punya pacarkan?”
“memang belum, tapi ada yang menyayangi aku bahkan dia baru saja bilang tadi malam”
“maksud kamu mas Zidan?” Tanya Aziz
“iyaa” singkat jawab vega
“dah yu balik kebutik” Aziz menarik tangan vega
“iya?”
“kita mulai semuanya dari awal yu?” ajak Aziz dengan lembut dan penuh percaya diri. Vega tebengong seorang diri ia tak percaya apa yang baru saja dikatakan Aziz, hatinya sangat bahagia jantungnya tambah bedebar, tapi disisi lain vega sedang dilema. Ia khawatir dengan perasaan Zidan apalagi Aziz ini adalah adik kandung Zidan.
“tapi… apa kamu gatau?” Tanya vega
“tau apa? Kamu belum punya pacarkan?”
“memang belum, tapi ada yang menyayangi aku bahkan dia baru saja bilang tadi malam”
“maksud kamu mas Zidan?” Tanya Aziz
“iyaa” singkat jawab vega
“dah yu balik kebutik” Aziz menarik tangan vega
Vega mengikuti setiap langkah Aziz sampai kebutik dan
mengajak vega keruang penyimpanan baju penganti. Aziz melepaskan genggamannya
dan ia menujukan sebuah lemari yang dilarang dibuka oleh bu solera.
“kamu udah pernah buka lemari ini?”Tanya Aziz santai
“belum pernah, siapun yang kerja disini dilarang membuka lemari itu”
“kamu tau kenapa semua yang kerja disini dilarang buka lemari ini”
“ya mana aku tahu” jawab singkat dan perasaan heran vega”
“ini aku siapin buat kamu” Aziz membuka lemari itu, terlihat disana sebuah gaun berwarna putih panjang dengan bunga-bunga berwarna pink yang berbaris dilingkar pinggang gaun itu, gaun yang terlihat sangat indah itu adalah sebuah gaun pengantin yang telah disiapkan oleh Aziz untuk calon istrinya nanti.
“ini aku siapin buat kamu vega” ulang pernyataan Aziz
“maksud kamu? Aku gak ngerti”
“kamu tuh dari dulu masih aja polos ya, aku mau kamu jadi istri aku vega” canda Aziz yang dipenuhi juga dengan keseriusan.
“tapi…” tiba-tiba Zidan dan bu solera memasuki ruangan itu
“vega mas tau kalian masih saling menyayangi sejak SMA, setiap malam Aziz selalu certain tentang kamu, mas aja baru tau tadi malem dari Aziz setelah kalian bertemu dan Aziz bahagianya minta ampun dirumah itu. Dan baju pengatin itu udah disiapin Aziz dari lama, Aziz nunggu kamu terus. kalau tau gini mas udah kasih tau dari mulai kamu kerja disini sayangnya Aziz gak pernah mampir kesini Cuma bilang kemamah minta buatin gaun pengantin paling indah buat calon istrinya nanti” penjelasan Zidan panjang lebar membuah vega hanya terdiam.
“iya sayang, kalau tau tante udah bilang dari awal. Tante restuin kalian pokoknya” ujar tante solera
“tapi mas Zidan..”
“aku enggak apa-apa vega, kita juga baru kenal kan. Aku akan lebih bahagia kalau kamu sama Aziz kalian terlihat cocok, kalian memang ditakdirkan untuk bejodoh”
“belum pernah, siapun yang kerja disini dilarang membuka lemari itu”
“kamu tau kenapa semua yang kerja disini dilarang buka lemari ini”
“ya mana aku tahu” jawab singkat dan perasaan heran vega”
“ini aku siapin buat kamu” Aziz membuka lemari itu, terlihat disana sebuah gaun berwarna putih panjang dengan bunga-bunga berwarna pink yang berbaris dilingkar pinggang gaun itu, gaun yang terlihat sangat indah itu adalah sebuah gaun pengantin yang telah disiapkan oleh Aziz untuk calon istrinya nanti.
“ini aku siapin buat kamu vega” ulang pernyataan Aziz
“maksud kamu? Aku gak ngerti”
“kamu tuh dari dulu masih aja polos ya, aku mau kamu jadi istri aku vega” canda Aziz yang dipenuhi juga dengan keseriusan.
“tapi…” tiba-tiba Zidan dan bu solera memasuki ruangan itu
“vega mas tau kalian masih saling menyayangi sejak SMA, setiap malam Aziz selalu certain tentang kamu, mas aja baru tau tadi malem dari Aziz setelah kalian bertemu dan Aziz bahagianya minta ampun dirumah itu. Dan baju pengatin itu udah disiapin Aziz dari lama, Aziz nunggu kamu terus. kalau tau gini mas udah kasih tau dari mulai kamu kerja disini sayangnya Aziz gak pernah mampir kesini Cuma bilang kemamah minta buatin gaun pengantin paling indah buat calon istrinya nanti” penjelasan Zidan panjang lebar membuah vega hanya terdiam.
“iya sayang, kalau tau tante udah bilang dari awal. Tante restuin kalian pokoknya” ujar tante solera
“tapi mas Zidan..”
“aku enggak apa-apa vega, kita juga baru kenal kan. Aku akan lebih bahagia kalau kamu sama Aziz kalian terlihat cocok, kalian memang ditakdirkan untuk bejodoh”
Vega berlari menghapiri Aziz yang berdiri disamping lemari
itu dan langsung memeluk Aziz dengan sangat erat dan membisikkan suatu kata
yang lembut.” Terimakasih masih menunggu dan mencintaiku selama ini, aku cinta
kamu”.
No comments:
Post a Comment