Kamu miliknya
Sore ini gor tempat biasa aku
latihatan bulutangkis masih terlihat sepi hanya ada aku dan beberapa orang
saja, ku mainkan ponsel ku seperti biasa update sana sini agar orang tahu aku
sedang apa, hanya ini yang bisa lu lakukan mengeluarkan keluh kesah dalam hati.
Tiba-tiba terlihat seseorang mengendairai sebuah motor Mio dan memakai helm berwarna putih memasuki
sebuah parkiran, matanya mancari celah-celah motor ditanah datar yang luasnya
sekitar 50mx50m itu. Dibuka helm berwarna putihnya itu, ku temukan dia. Dia
yang membuat ku semangat untuk datang
latihan, dia yang selalu membuat ku terkagum-kagum melihat permainan
bulutangkisnya, dia yang membuat jantung ku berdebar cepat ketika tatapan kita
saling bertemu, dan dia yang sudah memiliki seorang kekasih.
Kulihat dia jalan menghampiriku dan
memberikan senyum kecilnya yang membuat jantungku berdebar sangat cepat, ku
ikuti dia dari belakang namanya itupun ku sebut. “Ridho yang lain mana? Kok
Cuma segini?”. Tanya ku penasaran karena hanya sedikit yang datang
“hmm, gatau ka masih pada dijalan
kali” jawabnya sederharana. “Dinda kemana belum dateng?”
“belum masih ada rapat disekolah”
kujawab dengan agak kesal mengingat dinda sebagai ketua selalu telat untuk latihan. Ku
berjalan menjauhinya menghampiri junior-junior ku yang sedang bercanda satu
sama lain.
“yu, semuanya masuk kita mulai aja”
suaraku dengan nada sedikit keras agar semua mendengarnya.
Malam ini ku perhatikan setiap
notification yang muncul dipath, twitter, instagram, bbm, line, facebook,
ask.fm. berharap ada notification dari Ridho tapi tidak ada, tiba-tiba terdapat
panggilan masuk diponselku. Suatu nama yang sangat aku kenal Rizki pacarku.
“assalamualaikum, aku udah dijalan mau kerumah kamu” suaranya yang tidak terlalu jelas.
“oh yaudah hati-hati ya”jawabku, ku matikan telepon dan kurapihkan rambutku untuk menyambut kedatangan Rizki yang bertepatan dimalam minggu ini.
“assalamualaikum, aku udah dijalan mau kerumah kamu” suaranya yang tidak terlalu jelas.
“oh yaudah hati-hati ya”jawabku, ku matikan telepon dan kurapihkan rambutku untuk menyambut kedatangan Rizki yang bertepatan dimalam minggu ini.
Sepulang Rizki kembali kuperhatikan
beberapa media sosial aku, tiba-tiba ada pesan masuk dari dinda, dan
memberitahukan latihan untuk lomba besok malam ditempat biasa. Semangat
terlihat dari raut wajahku, dalam hati aku berharap dia pun datang untuk
latihan walau rumahnya jauh dan sangat jauh. Dia memang semangat ku untuk
selalu hadir setiap kali latihan walau aku sendiri tidak ingin mengikuti lomba
tapi aku ikut hadir latihan, kadang aku berfikir aku ini wanita yang aneh.
Esok harinya, matahari mulai
terbenam dan azan magrib pun segera berkumandang ku ambil wudhu dan ku ambil
mukena, aku mulai solat dan berdoa. Seusai solat kurapihkan segala perlengkapan
untuk latihan. Segera Rina datang menjemputku dengan sepeda motor kunyalakan
gas dan kulajukan sepeda motor sampai ketempat tujuanku dan sudah ku lihat
beberpa orang disana, mereka terlihat sangat bersemangat.
Aku ambil raket ku yang berada
ditas berwarna merah itu ku perhatikan Ridho yang sedang asik bermain
bulutangkis dengan gayanya yang terlihat professional itu, sungguh pemandangan
indah yang kulihat malam ini. Tiba-tiba dinda menyuruh semuanya untuk berkumpul
dan menginformasikan tentang persiapan lomba esok hari. Barang-barang sudah
dirapihakan semuanya bersiap-siap untuk pulang kerumah masing-masing tidak lupa
aku mengingatkan semuanya untuk tidak bergadang malam ini .
Malam ini ku perhatikan ponsel ku
dan hanya satu kontak BBM yang sedang aku lihat, aku mencoba mengetik untuk
berangakat bersama dengan Ridho, aku ragu aku takut Ridho menolak ajakan ku
tapi kuberanikan diri untuk mengetiknya. Dan akhirnya dia mengiyakan ajakanku
untuk berangkat bersama, dia memberiku nomer teleponnya agar aku bisa
menghubunginya besok pagi kalau tiba-tiba BBM sedang slowrespon.
Pagi ini aku siapkan segalanya
termasuk mentalku karena akan satu motor dengan Ridho, tidak lama Ridho pun
tiba menjemputku. Diperjalanan menuju tempat lomba aku lebih banyak diam tetapi
Ridho selalu mencoba membuat aku tertawa.
“kak put kenapa?”
“duh kalau nikung jangan terlalu
miring ya aku takut jatoh” jawabku ketakutan
“ohh kaputri takut miring-miring haha “ ejeknya menjekku yang sedang was-was ketika ada tikungan
“ohh kaputri takut miring-miring haha “ ejeknya menjekku yang sedang was-was ketika ada tikungan
“tenang ka aku gakkan
miring-miring” jawabnya dengan cool. Ridho terus melajukan sepeda motornya itu,
entahlah apakah dia merasakan yang sedang aku rasakan saat ini perasaan yang
benar-benar tidak percaya kalau aku bisa satu motor dengan Ridho dan bercanda
seperti ini.
Sekitar pukul 11:30 sampai disebuah
gor bulutangkis yang terlihat cukup besar didaerah bekasi anak laki-laki
mempersiapkan untuk solat jum’at terlebih dahulu sedangkan aku dan lainnya
mencari makanan kesana sini.
Lomba pun dimulai aku menyemangati
semua teman ku yang mengikuti lomba itu termasuk Ridho, aku lihat banyak keringat
bercucuran diwajah Ridho rasanya ingin ku bersihkan keringat itu dengan tisu
yang ku pengang, tetapi Rina lebih dahulu membersihkan keringat Ridho dengan
sedikit candaan, walau hanya bercanda aku merasa hal ini menyakitkan. Ridho
selalu menjauhi Rina ketika melihat wajahku seperti tidak suka melihat mereka
berdua, aku tidak tau apakah Ridho mengetahui perasaanku atau tidak. Seusai
lomba aku dan teman-teman merapihkan semua nya. Ketika perjalanan pulang mataku
terkena debu membuat aku mengeluarkan air mata dan Ridho menyuruhku untuk
memakai helm yang hanya aku pengang.
“ka pake helm nya tuhkan kelilipan”
“aduhh pusing kalau pake helm, ini
mata perih banget” aku mencoba mengucek-ngucek mataku agar debu itu keluar tapi
apa daya mataku semakin memerah.
“gimana ya ka, yaudah kakak pake
helm matanya jangan dikucek-kucek terus pake juga ini jaket ya” keluar kata
yang terlihat Ridho sangat khawatir kepadaku.
Beberapa bulan berlalu sejak
kejadian itu aku dan Ridho saling mencuri-curu pandang dan kadang terpegok oleh
mataku. Entah pacarnya tau atau tidak kalau Ridho pergi berasama aku saat itu.
Sudah beberpa minggu yang lalu hubunngan aku dengan Rizki berakhir, aku mencoba
mencari kesibukan dengan mengotak-ngatik beberapa akun media sosial milikku.
tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 14:30 hari ini aku mencoba untuk hadir
melihat sparing bulutangkis, sudah lama semenjak angkatan ku lengser aku tidak
pernah melihat junior-junior ku berlatih.
Dua orang yang aku lihat disana
sedang bertanding bersama sekolah lain, jelas aku lihat itu Ridho. Yang lainnya
berteriak menyemangati Ridho dan Aziz yang sedang bertanding, sementara aku
berteriak menyemangatin Ridho saja.
“semangat Ridho !” teriak ku karena
aku tidak ingin yang lainya curiga aku semangati juga Aziz yang sedang bermain
ganda dengan Ridho. “Ziz semangat okay semangat semangat” teriak ku. Aku
melihat Ridho melirik kearah ku dengan memberikan senyum manisnya itu,
tiba-tiba tubuh ku terasa berhenti tidak dapat bergerak aliran darah terasa
seperti terhenti sejenak nafasku terasa sesak karena menahan kesenangan ini.
Malam ini adalah malam minggu
seperti biasa setelah aku berpisah dengan Rizki hanya kakek yang menemaniku
menonton tv. Aku ambil ponsel ku yang sedang aku charger didalam kamar aku
mengganti display picture. Setelah selang 10 menit aku lihat layar ponsel ku
terdapat notification dari BBM, aku dapatkan nama Ridho alvian dichats paling
atas.
“kalau tempat sampah gak kebawa mah
keren” tulisnya
“hahaha,
oya Ridho kenapa sama eskul kenapa pmnya kayak gitu” balas ku
“oh itu biasa ka kayak dulu, butuh bantuan
kak dinda”
“yaudah
hubungin Dinda”
“iya
entar aja disekolah, kakak juga datang ya?”
“dateng kemana?” heran jawab ku
“eh gak jadi deh, kalau rapat ada
ka Bela nanti aku grogi” Apa yang dia katakana membuat aku semakin heran.
“kayak kemarin disemangatin sama ka Bela malah jadi grogi”
“perasaan aku sering semangatin Cuma gak sadar aja kan?” ceplos jawabku
“tapi kemarin secara langsung” balasnya
“perasaan aku sering semangatin Cuma gak sadar aja kan?” ceplos jawabku
“tapi kemarin secara langsung” balasnya
Aku tinggalkan ponsel dimeja rias,
dan segera aku tertidur tanpa membalas lebih dulu pesan dari Ridho. Biasanya Ridho
selalu curhat tetang pacarnya tapi kali ini berbeda. Ada rasa senang dalam hati
tapi ada rasa mengganjal juga.
Esok harinya, seusai sekolah ku
langkahkan kaki ku dengan semangat menyusuri setiap lorong-lorong sekolah untuk
sampai keparkiran, aku lihat ada sosok yang selalu membuat perasaan ku tak
karuan sedang berdiri dibawah pohon beringin bersama teman-temannya. Aku pasang
senyum termanis ku dan dia membalasnya dengan senyuman dibibirnya yang seperti
bulan sabit itu, senyuman yang membuat jantung ku kerap berdebar sangat cepat
ketika melihatnya. Ada getar diponsel ku segara aku merogoh kantong rok ku, aku
melihat ada pesan BBM dari Ridho.
“bidadari tidak punya sayap” segera
jemari-jemari ku menyusuri setiap huruf yang ada dilayar ponsel ku
“semua bidadari punya sayap keles,
gw bidadari bohongaan hahah”
“kakak bidadari yang gapunya sayap karena ditakdirkan biar gak pergi jauh ninggalin aku, dan matanya yang terlalu indah itu tidak berani ku meniupnya” balasnya lewat pesan BBM
“modus dasar bilangin Mira tau rasa deh” ejekku membalasnya
“kakak bidadari yang gapunya sayap karena ditakdirkan biar gak pergi jauh ninggalin aku, dan matanya yang terlalu indah itu tidak berani ku meniupnya” balasnya lewat pesan BBM
“modus dasar bilangin Mira tau rasa deh” ejekku membalasnya
“ya daripada buat kakak bĂȘte”
“yaudah kalau gitu kirimin gw voice note Ridho nyanyi ya”balas ku
“yaudah kalau gitu kirimin gw voice note Ridho nyanyi ya”balas ku
Beberapa lagu dia nyanyikan untuk
menghiburku, suaranya yang merdu suara alat music ukulelenya yang terdengar
rapih tak berantakan membuat aku selalu memutar ulang lagu-lagu yang dia
nyanyikan itu, satu lagu yang paling aku suka dia menyanyikan lagu pemilik hati
yang penyanyi aslinya band armada, ia hanya menyanyikan bagian reffnya saja.
Entah apa yang aku rasakan lagu itu seperti benar-benar tertuju untukku.
“kakak makasih ya” pesan BBM dari Ridho
masuk
“makasih untuk apa ya?” balasku
heran
“makasih udah dikasih senyumnya
hari ini bikin semangat ulangan”
“wihh senyum gue bisa semangatin orang” balasku dengan melompat-lompat dikamar ternyamanku. Dia membuat aku sangat bahagia malam, aku selalu bertanya-tanya apakah dia tau tentang semua perasaan yang ku punya ini, apakah dia memahami dengan kode yang selalu aku berikan setiap aku update status di media sosial milikku? Semua itu penuh tandanya, rasanya ingin sekali aku mengungkapkan semua perasaan yang aku simpan secara diam-diam ini, aku tidak mengharapkan dia membalas perasaanku, aku hanya ingin dia mengetahui semuanya sebelum aku meniggalkan sekolah ini sebelum aku pergi untuk mengejar mimpiku.
“wihh senyum gue bisa semangatin orang” balasku dengan melompat-lompat dikamar ternyamanku. Dia membuat aku sangat bahagia malam, aku selalu bertanya-tanya apakah dia tau tentang semua perasaan yang ku punya ini, apakah dia memahami dengan kode yang selalu aku berikan setiap aku update status di media sosial milikku? Semua itu penuh tandanya, rasanya ingin sekali aku mengungkapkan semua perasaan yang aku simpan secara diam-diam ini, aku tidak mengharapkan dia membalas perasaanku, aku hanya ingin dia mengetahui semuanya sebelum aku meniggalkan sekolah ini sebelum aku pergi untuk mengejar mimpiku.
Kali ini apa yang harus aku lakukan
apakah aku harus secepat mungkin mengungkapkan apa yang selama ini terpendam?
kapan waktu yang pas untuk aku mengungkapkannya? apa respon dia ketika aku
memberitahukan semua perasaanku? apa dia hanya akan menertawaiku? apa dia akan
bilang dia mencintaiku juga? apa dia langsung memeluk tubuh ku? apa dia acuhkan
aku begitu saja dan menjauh dariku?
Semua itu selalu aku fikirkan. Aku memang tak terlalu berharap dia mencintaiku
tapi aku ingin semua pengungkapan ku dia balasnya dengan positif.
Malam harinya, aku buka laptop aku
putar video super junior yang membuat aku tenang aku perhatikan setia gerakan
dancenya aku coba ikut bernyanyi dan menggerakkan tubuhku selayaknya ngedance
bersama anggota super junior. Rasa bosan mengampiri aku tutup laptop ku dan aku
raih ponsel ku yang dari sore aku charger, ada BBM masuk dari Ridho segera aku
buka dan dia mengirimkan aku voice note untuk kesekian kalinya. Dia menyanyikan
sebuah lagu yang setiap hari aku dengar andai saja penyanyi aslinya anima, aku
lompat-lompat kegirangan aku merasa dia memahami kode yang selalu aku berikan
lewat update statusku. Dia menyuruhku untuk hadir saat latihan bulutanggkis
hari sabtu nanti dan aku iyakan ajakannya itu.
Esok harinya, aku sudah tiba di gor
biasa tempat latihan bulutangkis, aku mencari-cari sosoknya belum kutemukan,
ketika aku melihat kearah pintu masuk aku lihat dia baru datang dan segera
menghampiri aku senyumnya yang manis itu menyapaku. Dan mengajak aku untuk
berfoto bersama anak-anak eskul hari ini, Ridho beranjak meninggalkanku. Aku
berjalan kearah luar dan ku nikmati angin sepoi-sepoi sore itu, aku
membayangkan senyum Ridho saat itu betapa manisnya. Tiba-tiba seseorang duduk
disampingku mengagetkanku dan langsung membuka percakapan.
“ka Ridho minta maaf ya kalau ada
salah” mata sipitnya itu menatapku dengan tajam
“salah? Enggak ada salah ko” balasku singkat
“salah? Enggak ada salah ko” balasku singkat
“yakan kalau ka”
“oh iyaaiyaa”
Bibirnya tersenyum dan matanya
menatapku, tangannya seperti ingin memegang tanganku.
“Ridho jangan liatin gw kayak gitu” ucapku kepadanya
“Ridho jangan liatin gw kayak gitu” ucapku kepadanya
“maaf ka, habis kakak cantik sih.
Kalau disemangatin kakak aku malah grogi apalagi kalau kakak udah senyum
haduhhh tapi gapapa deh semangatin terus aja heheh” jawabnya membuat aku salah
tingkah saat itu
“apasih Ridho udah ah jangan modus mulu”
“apasih Ridho udah ah jangan modus mulu”
“Ridho tuh kalau ngomong gak pernah
modus ka”
“ah tau ah” jawab ku singkat
“ka ayo foto-foto disana sama
anak-anak yang lain” ajaknya menarik tanganku
“ahh iyaiya”
“ahh iyaiya”
Jantungku saat ini tidak bisa
diajak berkompromi rasanya dia ingin pergi dari tempatnya dan meninggalkan ku
rasanya jatungku ini ingin lompat keluar karena terlalu bahagia. Aku dan dia
selalu berfoto berdekatan, kadang aku lihat matanya yang mencuri-curi pandang
melirikku itu membuat aku kembali salah tingkah.
Aku melihat dia sedang menerima
telepon dan sekaligus mencari angin, telepon dia matikan dan aku menghampirinya
aku mencoba ingin mengungkapkan semua perasaanku kepadanya.
“Ridho siapa yang nelepon?” tanyaku
penasaran
“mamah yang Banten” jawabnya tak
bersemangat
“kenapa pasti kangen ya?”
“besok aku disuruh keBanten ka, ada
pertemuan”
“pertemuan apa?” tanyaku lagi
penasaran
“pertemuan keluarga antara keluarga
aku dan keluarga Mira”
Jengggggg….” Pertemuan keluarga ?”
“iya ka,” jawabnya lesu “oya ada
apa tadi ka?”
Dia menatapku tajam, aku berdiam
mematung, wajah aku hadapkan keatas langit-langit untuk menahan airmata yang
sudah penuh dipelupuk mataku. Aku mengerti apa maksudnya pertemuan keluarga
itu. Aku mengurungkan keinginanku untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya, aku
pergi meninggalkannya dengan alasan sudah terlalu sore aku harus pulang.
Beberapa bulan setelah kejadian itu
ku liat display picture Ridho ganti dengan foto Ridho berserta keluarganya dan
Mira beserta keluarganya juga. Tiba-tiba BBM masuk dari Dedi.
“put waktu itu Ridho pernah jatuh
cinta sama lo, tapi terhalang suatu hal”
Jenggggg…. Perasaan ku tak percaya
melihat pesan itu, rasanya ingin langsung aku tanyakan pada Ridho tapi aku
menahanya karena tak ingin mengganggunya dengan kekasihnya.
No comments:
Post a Comment