Putri Windasari Mahasiswi Broadcasting

Thursday, 2 April 2015

Cerpen Kamu Miliknya

Kamu miliknya
Sore ini gor tempat biasa aku latihatan bulutangkis masih terlihat sepi hanya ada aku dan beberapa orang saja, ku mainkan ponsel ku seperti biasa update sana sini agar orang tahu aku sedang apa, hanya ini yang bisa lu lakukan mengeluarkan keluh kesah dalam hati. Tiba-tiba terlihat seseorang mengendairai sebuah motor Mio  dan memakai helm berwarna putih memasuki sebuah parkiran, matanya mancari celah-celah motor ditanah datar yang luasnya sekitar 50mx50m itu. Dibuka helm berwarna putihnya itu, ku temukan dia. Dia yang membuat ku semangat  untuk datang latihan, dia yang selalu membuat ku terkagum-kagum melihat permainan bulutangkisnya, dia yang membuat jantung ku berdebar cepat ketika tatapan kita saling bertemu, dan dia yang sudah memiliki seorang kekasih.
Kulihat dia jalan menghampiriku dan memberikan senyum kecilnya yang membuat jantungku berdebar sangat cepat, ku ikuti dia dari belakang namanya itupun ku sebut. “Ridho yang lain mana? Kok Cuma segini?”. Tanya ku penasaran karena hanya sedikit yang datang
“hmm, gatau ka masih pada dijalan kali” jawabnya sederharana. “Dinda kemana belum dateng?”
“belum masih ada rapat disekolah” kujawab dengan agak kesal mengingat dinda  sebagai ketua selalu telat untuk latihan. Ku berjalan menjauhinya menghampiri junior-junior ku yang sedang bercanda satu sama lain.
“yu, semuanya masuk kita mulai aja” suaraku dengan nada sedikit keras agar semua mendengarnya.

Malam ini ku perhatikan setiap notification yang muncul dipath, twitter, instagram, bbm, line, facebook, ask.fm. berharap ada notification dari Ridho tapi tidak ada, tiba-tiba terdapat panggilan masuk diponselku. Suatu nama yang sangat aku kenal Rizki pacarku.
            “assalamualaikum, aku udah dijalan mau kerumah kamu” suaranya yang tidak terlalu jelas.
            “oh yaudah hati-hati ya”jawabku, ku matikan telepon dan kurapihkan rambutku untuk menyambut kedatangan Rizki yang bertepatan dimalam minggu ini.
Sepulang Rizki kembali kuperhatikan beberapa media sosial aku, tiba-tiba ada pesan masuk dari dinda, dan memberitahukan latihan untuk lomba besok malam ditempat biasa. Semangat terlihat dari raut wajahku, dalam hati aku berharap dia pun datang untuk latihan walau rumahnya jauh dan sangat jauh. Dia memang semangat ku untuk selalu hadir setiap kali latihan walau aku sendiri tidak ingin mengikuti lomba tapi aku ikut hadir latihan, kadang aku berfikir aku ini wanita yang aneh.
Esok harinya, matahari mulai terbenam dan azan magrib pun segera berkumandang ku ambil wudhu dan ku ambil mukena, aku mulai solat dan berdoa. Seusai solat kurapihkan segala perlengkapan untuk latihan. Segera Rina datang menjemputku dengan sepeda motor kunyalakan gas dan kulajukan sepeda motor sampai ketempat tujuanku dan sudah ku lihat beberpa orang disana, mereka terlihat sangat bersemangat.
Aku ambil raket ku yang berada ditas berwarna merah itu ku perhatikan Ridho yang sedang asik bermain bulutangkis dengan gayanya yang terlihat professional itu, sungguh pemandangan indah yang kulihat malam ini. Tiba-tiba dinda menyuruh semuanya untuk berkumpul dan menginformasikan tentang persiapan lomba esok hari. Barang-barang sudah dirapihakan semuanya bersiap-siap untuk pulang kerumah masing-masing tidak lupa aku mengingatkan semuanya untuk tidak bergadang malam ini .
Malam ini ku perhatikan ponsel ku dan hanya satu kontak BBM yang sedang aku lihat, aku mencoba mengetik untuk berangakat bersama dengan Ridho, aku ragu aku takut Ridho menolak ajakan ku tapi kuberanikan diri untuk mengetiknya. Dan akhirnya dia mengiyakan ajakanku untuk berangkat bersama, dia memberiku nomer teleponnya agar aku bisa menghubunginya besok pagi kalau tiba-tiba BBM sedang slowrespon.
Pagi ini aku siapkan segalanya termasuk mentalku karena akan satu motor dengan Ridho, tidak lama Ridho pun tiba menjemputku. Diperjalanan menuju tempat lomba aku lebih banyak diam tetapi Ridho selalu mencoba membuat aku tertawa.
“kak put kenapa?”
“duh kalau nikung jangan terlalu miring ya aku takut jatoh” jawabku ketakutan
            “ohh kaputri takut miring-miring haha “ ejeknya menjekku yang sedang was-was ketika ada tikungan
“tenang ka aku gakkan miring-miring” jawabnya dengan cool. Ridho terus melajukan sepeda motornya itu, entahlah apakah dia merasakan yang sedang aku rasakan saat ini perasaan yang benar-benar tidak percaya kalau aku bisa satu motor dengan Ridho dan bercanda seperti ini.
Sekitar pukul 11:30 sampai disebuah gor bulutangkis yang terlihat cukup besar didaerah bekasi anak laki-laki mempersiapkan untuk solat jum’at terlebih dahulu sedangkan aku dan lainnya mencari makanan kesana sini.
Lomba pun dimulai aku menyemangati semua teman ku yang mengikuti lomba itu termasuk Ridho, aku lihat banyak keringat bercucuran diwajah Ridho rasanya ingin ku bersihkan keringat itu dengan tisu yang ku pengang, tetapi Rina lebih dahulu membersihkan keringat Ridho dengan sedikit candaan, walau hanya bercanda aku merasa hal ini menyakitkan. Ridho selalu menjauhi Rina ketika melihat wajahku seperti tidak suka melihat mereka berdua, aku tidak tau apakah Ridho mengetahui perasaanku atau tidak. Seusai lomba aku dan teman-teman merapihkan semua nya. Ketika perjalanan pulang mataku terkena debu membuat aku mengeluarkan air mata dan Ridho menyuruhku untuk memakai helm yang hanya aku pengang.
“ka pake helm nya tuhkan kelilipan”
“aduhh pusing kalau pake helm, ini mata perih banget” aku mencoba mengucek-ngucek mataku agar debu itu keluar tapi apa daya mataku semakin memerah.
“gimana ya ka, yaudah kakak pake helm matanya jangan dikucek-kucek terus pake juga ini jaket ya” keluar kata yang terlihat Ridho sangat khawatir kepadaku.
Beberapa bulan berlalu sejak kejadian itu aku dan Ridho saling mencuri-curu pandang dan kadang terpegok oleh mataku. Entah pacarnya tau atau tidak kalau Ridho pergi berasama aku saat itu. Sudah beberpa minggu yang lalu hubunngan aku dengan Rizki berakhir, aku mencoba mencari kesibukan dengan mengotak-ngatik beberapa akun media sosial milikku. tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 14:30 hari ini aku mencoba untuk hadir melihat sparing bulutangkis, sudah lama semenjak angkatan ku lengser aku tidak pernah melihat junior-junior ku berlatih.
Dua orang yang aku lihat disana sedang bertanding bersama sekolah lain, jelas aku lihat itu Ridho. Yang lainnya berteriak menyemangati Ridho dan Aziz yang sedang bertanding, sementara aku berteriak menyemangatin Ridho saja.
“semangat Ridho !” teriak ku karena aku tidak ingin yang lainya curiga aku semangati juga Aziz yang sedang bermain ganda dengan Ridho. “Ziz semangat okay semangat semangat” teriak ku. Aku melihat Ridho melirik kearah ku dengan memberikan senyum manisnya itu, tiba-tiba tubuh ku terasa berhenti tidak dapat bergerak aliran darah terasa seperti terhenti sejenak nafasku terasa sesak karena menahan kesenangan ini.
Malam ini adalah malam minggu seperti biasa setelah aku berpisah dengan Rizki hanya kakek yang menemaniku menonton tv. Aku ambil ponsel ku yang sedang aku charger didalam kamar aku mengganti display picture. Setelah selang 10 menit aku lihat layar ponsel ku terdapat notification dari BBM, aku dapatkan nama Ridho alvian dichats paling atas.
“kalau tempat sampah gak kebawa mah keren” tulisnya
            “hahaha, oya Ridho kenapa sama eskul kenapa pmnya kayak gitu” balas ku
“oh itu biasa ka kayak dulu, butuh bantuan kak dinda”
            “yaudah hubungin Dinda”
            “iya entar aja disekolah, kakak juga datang ya?”
“dateng kemana?” heran jawab ku
“eh gak jadi deh, kalau rapat ada ka Bela nanti aku grogi” Apa yang dia katakana membuat aku semakin heran. “kayak kemarin disemangatin sama ka Bela malah jadi grogi”
            “perasaan aku sering semangatin Cuma gak sadar aja kan?” ceplos jawabku
            “tapi kemarin secara langsung” balasnya
Aku tinggalkan ponsel dimeja rias, dan segera aku tertidur tanpa membalas lebih dulu pesan dari Ridho. Biasanya Ridho selalu curhat tetang pacarnya tapi kali ini berbeda. Ada rasa senang dalam hati tapi ada rasa mengganjal juga.
Esok harinya, seusai sekolah ku langkahkan kaki ku dengan semangat menyusuri setiap lorong-lorong sekolah untuk sampai keparkiran, aku lihat ada sosok yang selalu membuat perasaan ku tak karuan sedang berdiri dibawah pohon beringin bersama teman-temannya. Aku pasang senyum termanis ku dan dia membalasnya dengan senyuman dibibirnya yang seperti bulan sabit itu, senyuman yang membuat jantung ku kerap berdebar sangat cepat ketika melihatnya. Ada getar diponsel ku segara aku merogoh kantong rok ku, aku melihat ada pesan BBM dari Ridho.
“bidadari tidak punya sayap” segera jemari-jemari ku menyusuri setiap huruf yang ada dilayar ponsel ku
“semua bidadari punya sayap keles, gw bidadari bohongaan hahah”
            “kakak bidadari yang gapunya sayap karena ditakdirkan biar gak pergi jauh ninggalin aku, dan matanya yang terlalu indah itu tidak berani ku meniupnya” balasnya lewat pesan BBM
            “modus dasar bilangin Mira tau rasa deh” ejekku membalasnya
“ya daripada buat kakak bĂȘte”           
            “yaudah kalau gitu kirimin gw voice note Ridho nyanyi ya”balas ku
Beberapa lagu dia nyanyikan untuk menghiburku, suaranya yang merdu suara alat music ukulelenya yang terdengar rapih tak berantakan membuat aku selalu memutar ulang lagu-lagu yang dia nyanyikan itu, satu lagu yang paling aku suka dia menyanyikan lagu pemilik hati yang penyanyi aslinya band armada, ia hanya menyanyikan bagian reffnya saja. Entah apa yang aku rasakan lagu itu seperti benar-benar tertuju untukku.
“kakak makasih ya” pesan BBM dari Ridho masuk
“makasih untuk apa ya?” balasku heran
“makasih udah dikasih senyumnya hari ini bikin semangat ulangan”
            “wihh senyum gue bisa semangatin orang” balasku dengan melompat-lompat dikamar ternyamanku. Dia membuat aku sangat bahagia malam, aku selalu bertanya-tanya apakah dia tau tentang semua perasaan yang ku punya ini, apakah dia memahami dengan kode yang selalu aku berikan setiap aku update status di media sosial milikku? Semua itu penuh tandanya, rasanya ingin sekali aku mengungkapkan semua perasaan yang aku simpan secara diam-diam ini, aku tidak mengharapkan dia membalas perasaanku, aku hanya ingin dia mengetahui semuanya sebelum aku meniggalkan sekolah ini sebelum aku pergi untuk mengejar mimpiku.
Kali ini apa yang harus aku lakukan apakah aku harus secepat mungkin mengungkapkan apa yang selama ini terpendam? kapan waktu yang pas untuk aku mengungkapkannya? apa respon dia ketika aku memberitahukan semua perasaanku? apa dia hanya akan menertawaiku? apa dia akan bilang dia mencintaiku juga? apa dia langsung memeluk tubuh ku? apa dia acuhkan aku begitu  saja dan menjauh dariku? Semua itu selalu aku fikirkan. Aku memang tak terlalu berharap dia mencintaiku tapi aku ingin semua pengungkapan ku dia balasnya dengan positif.
Malam harinya, aku buka laptop aku putar video super junior yang membuat aku tenang aku perhatikan setia gerakan dancenya aku coba ikut bernyanyi dan menggerakkan tubuhku selayaknya ngedance bersama anggota super junior. Rasa bosan mengampiri aku tutup laptop ku dan aku raih ponsel ku yang dari sore aku charger, ada BBM masuk dari Ridho segera aku buka dan dia mengirimkan aku voice note untuk kesekian kalinya. Dia menyanyikan sebuah lagu yang setiap hari aku dengar andai saja penyanyi aslinya anima, aku lompat-lompat kegirangan aku merasa dia memahami kode yang selalu aku berikan lewat update statusku. Dia menyuruhku untuk hadir saat latihan bulutanggkis hari sabtu nanti dan aku iyakan ajakannya itu.
Esok harinya, aku sudah tiba di gor biasa tempat latihan bulutangkis, aku mencari-cari sosoknya belum kutemukan, ketika aku melihat kearah pintu masuk aku lihat dia baru datang dan segera menghampiri aku senyumnya yang manis itu menyapaku. Dan mengajak aku untuk berfoto bersama anak-anak eskul hari ini, Ridho beranjak meninggalkanku. Aku berjalan kearah luar dan ku nikmati angin sepoi-sepoi sore itu, aku membayangkan senyum Ridho saat itu betapa manisnya. Tiba-tiba seseorang duduk disampingku mengagetkanku dan langsung membuka percakapan.
“ka Ridho minta maaf ya kalau ada salah” mata sipitnya itu menatapku dengan tajam
            “salah? Enggak ada salah ko” balasku singkat
“yakan kalau ka”
“oh iyaaiyaa”
Bibirnya tersenyum dan matanya menatapku, tangannya seperti ingin memegang tanganku.
            “Ridho jangan liatin gw kayak gitu” ucapku kepadanya
“maaf ka, habis kakak cantik sih. Kalau disemangatin kakak aku malah grogi apalagi kalau kakak udah senyum haduhhh tapi gapapa deh semangatin terus aja heheh” jawabnya membuat aku salah tingkah saat itu
            “apasih Ridho udah ah jangan modus mulu”
“Ridho tuh kalau ngomong gak pernah modus ka”
“ah tau ah” jawab ku singkat
“ka ayo foto-foto disana sama anak-anak yang lain” ajaknya menarik tanganku
            “ahh iyaiya”
Jantungku saat ini tidak bisa diajak berkompromi rasanya dia ingin pergi dari tempatnya dan meninggalkan ku rasanya jatungku ini ingin lompat keluar karena terlalu bahagia. Aku dan dia selalu berfoto berdekatan, kadang aku lihat matanya yang mencuri-curi pandang melirikku itu membuat aku kembali salah tingkah.
Aku melihat dia sedang menerima telepon dan sekaligus mencari angin, telepon dia matikan dan aku menghampirinya aku mencoba ingin mengungkapkan semua perasaanku kepadanya.
“Ridho siapa yang nelepon?” tanyaku penasaran
“mamah yang Banten” jawabnya tak bersemangat
“kenapa pasti kangen ya?”
“besok aku disuruh keBanten ka, ada pertemuan”
“pertemuan apa?” tanyaku lagi penasaran
“pertemuan keluarga antara keluarga aku dan keluarga Mira”
Jengggggg….” Pertemuan keluarga ?”
“iya ka,” jawabnya lesu “oya ada apa tadi ka?”
Dia menatapku tajam, aku berdiam mematung, wajah aku hadapkan keatas langit-langit untuk menahan airmata yang sudah penuh dipelupuk mataku. Aku mengerti apa maksudnya pertemuan keluarga itu. Aku mengurungkan keinginanku untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya, aku pergi meninggalkannya dengan alasan sudah terlalu sore aku harus pulang.
Beberapa bulan setelah kejadian itu ku liat display picture Ridho ganti dengan foto Ridho berserta keluarganya dan Mira beserta keluarganya juga. Tiba-tiba BBM masuk dari Dedi.
“put waktu itu Ridho pernah jatuh cinta sama lo, tapi terhalang suatu hal”

Jenggggg…. Perasaan ku tak percaya melihat pesan itu, rasanya ingin langsung aku tanyakan pada Ridho tapi aku menahanya karena tak ingin mengganggunya dengan kekasihnya.

No comments:

Post a Comment